Banjir Bandang Terjang SMAN 2, Diduga Biang Keladinya Izin Amdal Proyek Tol BORR

Proyek pembangunan Jalan Tol BORR Seksi II, Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor (stock)
Proyek pembangunan Jalan Tol BORR Seksi II, Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor (stock)

BOGOR (KM) – Terjadinya banjir bandang yang menerjang tembok SMAN 2 Kota Bogor belum lama ini, diduga pengaruh dari perizinan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) pembangunan proyek jalan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) seksi IIB yang bermasalah, diperkuat adanya pembangunan beberapa tiang pancang di sepanjang median jalan Soleh Iskandar (Sholis) yang menghambat aliran drainase.

Hal itu diduga mengakibatkan aliran sungai yang mengalir tepat di bawah jalan Sholis arusnya tidak terkendali, sehingga menjebol tanggul wilayah sekitar Kelurahan Sukaresmi dan SMAN 2.

“Pertama yang harus dilakukan peninjauan ulang terhadap dokumen Amdal proyek pembangunan tersebut. Dan setiap pembangunan harus mengakomodir terkait potensi-potensi yang bakal menimbulkan permasalahan,” jelas Dosen Teknik Sipil Universitas Pakuan (Unpak) Bogor, Budi Arif kepada kupasmerdeka.com, Rabu (1/3).

Kata Budi, seharusnya manajer proyek pembangunan Tol BORR mengantisipasi masalah lingkungan. Salah satunya bisa dilakukan dengan cara membuat sodetan untuk pengganti drainase yang terhambat atas pembangunan tiang pancang. Dia menganggap bahwa hal tersebut semestinya bisa menjadi pertimbangan dalam menangani drainase.
“Itu memang resiko dari kontraktor untuk membuat sodetan itu. Itu mungkin yang tidak terantisipasi jika memang penyebabnya adalah pembangunan tiang pancang,” katanya.

Menurutnya, minimal sodetan tersebut akan mengurangi volume air yang meningkat di kala intensitas hujan sedang tinggi.

Kemudian, juga tidak boleh ada hambatan berupa bongkahan ataupun puing-puing bekas pembangunan di aliran air. “Itu harus dibersihkan. Agar alirannya lebih baik,” ujar Budi.

Penebangan pohon di sepanjang median jalan Sholis yang dilakukan beberapa waktu lalu juga dinilai menjadi minimnya resapan air di daerah tersebut.

Advertisement

Ahli Lanskap IPB, Prof Hadi Susilo mengatakan, meski tidak besar tapi tetap ada kemungkinan diakibatkan oleh penebangan pohon-pohon tersebut. Tapi, dirinya menyarankan agar melakukan pengkajian lebih dahhulu mengenai kebenarannya.

“Karena curah hujan saat itu pun terbilang tinggi. Ada kemungkinan tentang lintasan air yang memang seharusnya mendapatkan wadah yang lebih baik,” tuturnya.

Pohon-pohon yang kala itu ditebang sebagian besar adalah jenis pohon trembesi. Pohon trembesi atau disebut juga pohon kihujan (Samanea saman) merupakan salah satu pohon penghijauan terbaik. Pertumbuhannya cepat, batangnya besar, kuat dan bentangan kanopinya lebar dan mampu menyerap 28 ton CO2 setiap tahunnya.
Trembesi bisa hidup di daerah yang kritis dan memiliki keasaman yang tinggi. Pohon terambesi yang ditanam di lahan seluas satu hektar, dapat mengikat 0,6 Ton Oksigen per hari.

Tumbuhan ini unggul pula dalam menanggulangi banjir, mampu menyimpan 900 meter kubik air juga menyalurkan 4000 liter air per hari.

Namun, Project Manajer PT Wika, Ali Afandi mengatakan bahwa dugaan banjir yang diakibatkan atas pembangunan tiang pancang itu hanya kecil kemungkinan, karena menurutnya, pembangunan tiang pancang tersebut posisinya tidak mengenai sungai yang ada di bawah jalan Sholis. Mengenai pembangunan tiang pancang di sepanjang median jalan Sholis pun menurutnya tidak mengenai drainase yang tertanam di bawahnya.

Ia mengatakan kontur jalan Sholis kemiringannya ke arah kanan-kiri jalan, sehingga menurutnya air tidak mengarah ke tengah median. “Salurannya air larinya ke arah kanan dan kiri jalan, tidak ke tengah,” tandasnya. (dedi)

Advertisement
Komentar Facebook

1 Trackback / Pingback

  1. Amdal Pembangunan Infrastruktur Jangan Abal-Abal – Firdaus Cahyadi

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: