Kepsek SMAN 13 Depok Bantah Telah Memecat Guru Honorer

Kepsek SMAN 13 Depok M. Mahfuddin saat memberikan keterangan pada awak media (dok. KM)
Kepsek SMAN 13 Depok M. Mahfuddin saat memberikan keterangan pada awak media (dok. KM)

DEPOK (KM) – SMA Negeri 13 Depok, yang terletak di kawasan Cimanggis, beberapa pekan lalu dihebohkan dengan pemberitaan di media sosial yang memuat kata-kata yang dituturkan oleh seorang guru honorer yang baru genap mengajar 6 bulan (1 semester). Andika Ramadhan Febriansyah (23 tahun), mahasiswa UNJ semester akhir, sang guru honorer yang semula mengajar bidang studi Sejarah di sekolah tersebut, mengaku telah dipecat secara tidak adil.

Dalam keterangan persnya Rabu 11/1 pada awak media di ruang kerjanya, kepala sekolah Mamad Mafuddin merasa bahwa pihaknya telah difitnah. “Andika awalnya melamar kerja di SMA ini dengan status mahasiswa smester akhir yang sedang menyelesaikan skripsinya. Pertimbangan saya menerima ia agar bisalah membantu untuk meringankan biaya skripsinya. Kan sayapun tau nyusun skripsi itu tidak sedikit biayanya,” jelas Mamad.

“Sayapun turut memantau kok skripsinya. Saat saya coba tanya belum ada progres hasilnya. Apa karena ia banyak kesita waktunya gara-gara pegang bidang studi sejarah. Akhirnya saya coba evaluasi, ia saya pindahkan sebagai penjaga perpustakaan dengan haknya tetap sama seperti halnya saat ia ngajar, sedikitpun tidak saya kurangi namun ia punya banyak waktu untuk mencari data sebagai bahan skripsinya. [Ini sudah] sesuai Amanat UU No.23/2003 bahwa tenaga pendidik [sekolah] haruslah seorang Sarjana S1/D4. Artinya saat pak Andika sudah selesai skripsinya dan dapat gelar S1 dari UNJ, silahkan ngajar lagi. Masa saya gak ada pertimbangan. Nah belakangan berkembang berita dimedsos bahwa saya memecat pak Andika,” lanjutnya.

“Saya pun mendapat laporan dari orang tua siswa bahwa anaknya sering nginep, katanya mengikuti kelompok belajar yang dibentuk oleh pak Andika yang bernama student merdeka. Dan ia melakukan kegiatan tanpa izin [sepengetahuan pihak sekolah]. Saya sebagai kepala sekolah coba mengingatkan ke orang tua siswa bahwa jika kegiatan tersebut tanpa izin pihak sekolah, maka saya pastikan itu ilegal. Jika ada suatu hal yang tidak diinginkan, pihak sekolah tidak bertanggung jawab,” tandas Mamad.

“Nah saat saya panggil pak Andika untuk memilih demi penyusunan skripsinya agar dia memilih alih tugas sebagai penjaga perpustakaan dengan tujuan ia dapat menyelesaikan tugasnya menyusun skripsi, namun ia keukeuh tetap gak mau di alih tugaskan dari pengajar menjadi penjaga perpustakaan. Bahkan saat saya tanyakan ada juga kok wakepsek dan beberapa guru sebagai saksi.”

Saat KM mengkonfirmasi kepada Rojali, orang tua dari salah satu siswa yang bernama Nahda, ia mengungkapkan ketidak setujuannya atas aktivitas yang tidak berizin itu, terlebih ketika harus menginap. “Saya tidak setuju kalau anak saya ikut kelompok belajar yang diluar izin sekolah, apalagi sampai nginep beberapa hari. Lalu anak saya sampai berani katakan bahwa pendidikan yang diajarkan di negara ini sudah tidak beres. Saya bilang ke anak saya, sudah tugasmu belajar bukan memikirkan hal yang terlalu jauh, dan kamu belum waktunya untuk berfikirkan kesana. Negara ini masing-masing sudah ada yang ngurusin dan sudah ada yang mengkritisinya. Dan ini tanda bahwa anak saya dan mungkin siswa yang lain sudah dicuci otaknya oleh Andika lewat Student Merdeka,” terang Rojali.

Menurut pengakuan Andika Ramadhan Febriansah (23), guru honorer SMAN13 Kota Depok, dirinya dicopot karena telah mengkritik praktik pungutan liar yang dilakukan oleh pihak sekolah. “Saya justru dicopot sebagai tenaga pengajar. Karena saya pernah mengkritik praktik pungutan sekolah bagi siswa yang dinilai tak wajar melalui media sosial,” ungkapnya saat ditemui wartawan KM di area Perpustakaan Universitas Indonesia, Kota Depok, Kamis 12/1.

Andika mengungkapkan, metode belajar yang ia ajarkan dipertanyakan karena banyak menggunakan film sebagai media pembelajaran.

Sedangkan, terkait aktivitas “Student Merdeka”, menurut data yang didapat KM, ada 24 siswa yang tergabung dalam kelompok tersebut. Sebut saja Rivat, siswa kelas XI SMAN 13. “Saya ikut kegiatan studi merdeka ya ngobrol-ngobrol aja sambil bahas sekolah yang aspirasi kita siswa tidak pernah didenger sama MPK, OSIS. Bahas tugas sekolah ya jarang. Pokoknya bahas masa depan pendidikan deh. Dari pagi sampai malam bahas pelajaran paling cuma 2 jam. Juga ikut seminar pesertanya banyak pokoknya,” pungkas Rivat. (Gie/Arkan)

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.