Victor Simanjuntak: “Kejujuran Satu-satunya cara untuk Basmi Korupsi

JAKARTA (KM) – Kejujuran berasal dari kata “jujur” yang artinya lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus atau ikhlas. Bila ditinjau dari segi definisi sebagaimana menurut kamus bahasa Indonesia, “kejujuran” adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan hati yang tulus, dengan maksud tujuan kebaikan, sesuai dengan hukum dan norma yang berlaku dan tidak menyimpang dari yang sesungguhnya. Dalam pengertian lain, masih menurut kamus bahasa Indonesia, istilah jujur adalah mengakui, berkata, atau memberikan suatu informasi yang sesuai dengan kenyataan dan kebenaran.

Itulah paparan awal mantan direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Tipid Eksus) Polri, Brigjen Pol (Purn) Victor Edison Simanjuntak di kediamannya saat ditemui oleh KM, Senin 10/10.

“Sikap seseorang ketika berhadapan dengan sesuatu atau fenomena dan menceritakan informasinya tanpa ada perubahan atau sesuai dengan realitasnya, disebut sebagai sikap kejujuran,” lanjutnya.

“Saat saya kemarin [Minggu 9/10] memberikan sosialisasi kepada sejumlah calon mahasiswa baru di aula Sinuraya di perkemahan bumi Sinuraya, Sibolangit, Tanah Karo Sumatera Utara, saya mengajak para pemuda untuk bersikap jujur, sebab dengan sikap jujurlah kita dapat melawan korupsi. Perilaku jujur, berkata jujur cara satu-satunya untuk dapat membasi korupsi,” jelas pensiunan jenderal polisi itu.

“Korupsi merupakan musuh paling menjijikkan, oleh karena itu akibat seseorang atau instansi melakukan korupsi banyak pula generasi muda yang terlantar dan rusak, lalu sebagai pelarian, kaum muda mereka lebih memilih narkoba, oleh karena itu ketidakjujuran dari para oknum di kalangan eksekutif, legislatif dan yudikatif, akan merusak semua nilai-nilai dari cita-cita luhur para pendiri negeri yang kita cintai ini,” demikian disampaikannya dalam acara tersebut.

Lebih lanjut, mantan Direktur Tipid Eksus ini menyatakan, “sikap jujur atau kejujuran seseorang itu bisa dihubungkan dengan hati nurani dan pengakuan. Orang yang baik akan risau dan tidak tenang saat
berkata atau berperilaku yang tidak sesuai dengan hati nurani atau memberikan pengakuan palsu dan bersikap tidak jujur.”

Advertisement

“Memang perilaku ketidak jujuran tersebut sudah sungguh mengakar dan membudaya di negeri kita ini, bukan hanya di kalangan pemerintahan, di kalangan pemuka agama pun sudah membudaya ketidak jujuran, bahkan di instansi penegak hukum yang seharusnya menegakkan kebenaran pun sudah tertular kebohongan. Hal ini dapat kita lihat dari kejadian-kejadian di Instansi Penegak Hukum yang diamana sering terjadi jual beli pasal. Penegakan hukum sudah tidak sesuai dengan undang-undang, siapa yang punya uang ia lah yang menjadi pemenang. Kebenaran sering diabaikan, bahkan fakta dibuat menjadi opini dan opini dibangun untuk pembenaran yang salah. Banyak oknum polisi yang terlibat narkoba, pungli dan pemerasan,” jelas Victor.

“Namun sangat sedikit yang terungkap dan bahkan nyaris tidak ada yang dikenai sanksi atau hukuman.
Kasus pemerasan pada masyarakat oleh oknum Polisi yang bertugas di jalan raya misalnya, hampir tidak pernah terdengar pelakunya dikenai sanksi atau hukuman,” tegasnya.

Ini merupakan salah satu bukti ketidak jujuran dari para aparat penegak hukum, belum lagi kasus pemerasan dari para oknum penyidik pada tersangkanya, sudah bukan rahasia lagi, para tersangka diperas oleh pemeriksa. Namun kasus seperti ini hampir tidak pernah terdengar dikenai sanksi atau hukuman. Ini semua merupakan tindakan ketidak jujuran dan sepatutnya dihilangkan.

“Sesungguhnya para hamba Allah itu dipanggil untuk menyatakan kebenaran, dan seharusnya para hamba Allah itu mengatakan “iya” jika “benar” dan “tidak” jika “salah”. Namun kenyataan di lapangan sungguh merisaukan masyarakat banyak, [khususnya dengan] pemuka agama yang terjun ke dunia politik,” tegas Victor. (Rully-Dayak)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*