Warga Desa Cogrek Keluhkan Pembangunan BTS, Pemdes: “Perizinannya Lengkap”

Warga berjalan dekat galian proyek pembangunan BTS di desa Cogrek, Kemang, Bogor (dok. KM)
Warga berjalan dekat galian proyek pembangunan BTS di desa Cogrek, Kemang, Bogor (dok. KM)

BOGOR (KM) – Maraknya laporan warga yang mengeluhkan pembangunan menara Base Transceiver Station (BTS) yang berlokasi di kampung Gotong Royong RT 2/RW 06 Desa Cogrek, kecamatan Parung, beberapa pekan ini membuat pihak pemerintah desa angkat suara.

Pemerintah Desa Cogrek meminta agar pihak-pihak yang tidak senang akan pembangunan menara agar datang langsung dan tidak “main di belakang layar”.

Menurut kades Cogrek, terkait pembangunan menara BTS yang sedang berlangsung saat ini sudah tidak ada kendala dan bahwasanya kelengkapan administrasi sudah dilengkapi oleh pihak operator BTS kepada pihak lingkungan, dalam hal ini seperti RT/RW dan perwakilan BPD setempat.

“Diantaranya lampiran surat persetujuan atau izin warga berupa tanda tangan dan foto copy KTP warga sekitar. Termasuk surat pernyataan warga yang tidak keberatan adanya pendirian BTS itu,” ucap Kades Suherdi saat ditemui KM, Senin 29/8.

Lebih lanjut Suherdi menjelaskan, sebagai pelayan masyarakat, aparatur Pemdes Cogrek meminta jika ada pihak yang keberatan terkait pendirian tower itu agar mengajukan surat keberatan resmi melalui Pemdes Cogrek.

“Tentu kami melayani semua pihak, baik investor atau warga. Selama prosedur dan tata cara teknisnya benar dan sesuai aturan,” pungkasnya.

Warga Pertanyakan Legalitas BTS

Adapun proyek pembangunan menara BTS tersebut berada tak jauh dari sebuah sekolah PAUD dan SDIT.

“Kami mempertanyakan soal legalitas perizinan pendirian tower tersebut. Apalagi jaraknya hanya sekitar 10 meter dari sarana pendidikan PAUD dan SD sebuah yayasan,” ungkap seorang warga yang enggan namanya dikorankan melalui pesan singkat kepada media.

Advertisement

Saat KM melakukan penelusuran ke lokasi, ternyata memang benar sedang dilakukan proses penggalian untuk pondasi menara BTS tersebut. Tak jauh dari lokasi, berjarak sekitar 10 meter, berdiri sebuah bangunan sekolah PAUD dan SDIT milik yayasan Al-Fattaah.

“Memang benar rencana pendirian tower itu akan dilakukan disini. Kebetulan pemilik lahannya adalah saudara kandung saya. Cuma kalau perusahaan yang akan menyewa lahan itu, saya kurang tahu dan faham,” ujar Yayan Sopian, ketua Yayasan Al-Fattaah saat ditemui di sekolah miliknya, Senin 29/8.

Alumnus UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta ini mengungkapkan, awalnya beberapa warga beserta dirinya, menolak keras rencana pendirian menara BTS tersebut. Namun karena berbagai pertimbangan, dia mengaku, akhirnya menyetujui hal tersebut. “Pada saat itu saya menolak karena berfikir dampak negatif dari adanya tower itu. Ya soal radiasi atau takut petir. Apalagi ada sarana pendidikan yang diisi sekitar 70 siswa setiap harinya,“ tutur Yayan mengungkapkan.

Sementara saat KM coba menelusuri, pihak pemilik tanah maupun perusahaan telekomunikasi yang menyewa tempat itu belum berhasil ditemui. (IDS)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*