Menyelusuri Jejak Sejarah Konsep Agama Leluhur Nusantara
Oleh: Kanjeng Senapati *)
(KM) – Konsep Kapitayan dan Sunda Wiwitan lebih kepada Ilmu Rasa (roso), budi pekerti, lebih kepada “kedalam diri” dan tidak “keluar diri”.
Konsep Kapitayan Sunda Wiwitan bukan ajaran animisme (penghormatan kepada leluhur). Tapi merupakan warisan konsep tauhid monotheistik yang pernah diajarkan oleh Nabi kepada para leluhur nusantara khusus ras austronesia di wilayah Sundalandia jazirah nusantara. Jauh ribuan tahun sebelum adanya kuil, candi dll.
Asal Usul Ajarannya
Kapitayan dan Sunda Wiwitan menurut sebagian orang yang tidak paham sejarah merupakan agama asli dan agama tertua para leluhur di Nusantara.
Menurut sebagian orang yang tidak paham sejarah, ajaran Kapitayan Sunda Wiwitan diklaim lahir jauh sebelum hadirnya agama baru Hindu, Budha dan Islam.
Dianggap sebagai agama pertama yang menyembah Tuhan Yang Esa yang mereka sebut dengan nama Sang Hyang Taya (Kapi-tayan) dan Sang Hyang Kersa (Sunda Wiwitan). Yang dibawa dan diajarkan oleh Sang hyang Ismaya Jati (eyang Semar). Karena Sang hyang Ismaya Jati termasuk grade ke 9 dari keturunan Sang hyang Adama atau Nabi Adam.
Memang benar ajaran Kapitayan dan Sunda Wwitan sebagai warisan dari ajaran nabi Adam sebagai leluhur dari Sanghyang Ismaya Jati (eyang Semar).
Jika kita telusuri asal usul sejarahnya berdasarkan kitab suci dan data naskah tulisan-tulisan sejarah dari manuskrip kuno, sebenarnya ajaran Kapitayan dan Sunda Wiwitan merupakan agama proto-monotheistik purba yang dibawa dan diwariskan Nabi Adam (Sanghyang Adama)._
Nabi Adam adalah leluhur tunggal awal peradaban manusia di muka bumi. Nabi Adam sebagai pembawa risalah tauhid, risalah Dienul Islam awal pertama agama proto-monotheistik purba dimuka bumi yang lalu diajarkan kepada keturunannya manusia dan kalangan jin.
Nabi Adam mengajarkan spiritual (hakekat / pembersihan jiwa), juga mengajarkan ritual (syariat/ ruku’ sujud) kepada keturunannya untuk menyembah Sang Pencipta Semesta.
Secara singkat penulis mengisahkan, telah tertulis didalam manuskrip dan Kitab Suci (Kitab Suci Zabur), bahwa Nabi Adam setelah kematian putranya Habil dibunuh oleh Qabil saat masih tinggal di jazirah Nusantara memiliki putra bernama Syits sebagai “putra mahkota” penerus jalur kenabian Nabi Adam dan rajanya manusia saat itu.
Singkat cerita, Nabi Syits memiliki putra kembar bernama Sayidina Anwas dan Sayidina Anwar.
Sayid Anwas menurunkan golongan manusia para Nabi seperti Nabi Idris, kemudian Nabi Idris menurunkan Nabi Nuh. Nabi Syits juga yang menurunkan para pemimpin manusia / raja di Nusantara dan di seluruh muka bumi.
Sayid Anwar menurunkan golongan jin para Sanghyang yang hidup pada “dimensi kedua” (golongan gaib).
Kenapa keturunan Sayid Anwar disebut golongan “Sang hyang”? Karena Sayidina Anwar putra Nabi Syits ditakdirkan Allaah merupakan keturunan
perpaduan dari Bani Adam (golongan manusia) dengan Bani Azazil (golongan jin).
Akhirnya, anak keturunan dari Sayid Anwar dikenal dengan sebutan nama golongan ke “Sang hyangan” (perpaduan golongan manusia dan golongan jin / keturunan Sayid Anwar).
Lalu Sayid Anwar (atau Sang hyang Nurcahya) sudah bertauhid memiliki putra bernama Sang hyang Nurasa, kemudian menurunkan Sang hyang Wenang (yang tinggal di kepulauan Maladewa). Masa Sang hyang Wenang mengalami degradasi (penurunan kualitas) tauhidnya. Sampai akhirnya menurunkan Sang hyang Ismaya Jati (eyang Semar) di Nusantara dan bertauhid kembali.
Mereka ini disebut golongan “Sang hyang”, karena merupakan perpaduan dari dzuriyah Bani Adam (golongan manusia) dan dzuriyah Bani Azazil (golongan jin). Bagi sebagian orang yang terpapar doktrin Weda Hindu, dianggap sebagai “Dewa”.
Karena pada masa Nabi Sulaiman, pernah Sang hyang Ismaya Jati tinggal di daratan Sundalandia di bumi Nusantara, beliau berguru dan belajar risalah tauhid dan diluruskan pemahamannya lagi oleh Nabi Sulaiman dengan mengajarkan Dienul Islam, yaitu ilmu tauhid, ilmu hakekat dan ilmu syariat dengan dasar Kitab Suci Zabur.
Nabi Sulaiman mengajarkan kepada Sang hyang Ismaya Jati konsep tauhid atau risalah Islam yang ditempuh spiritual dan ritual dengan pengolahan jiwa / rasa dan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs).
Di sinilah Ismaya Jati (eyang Semar) menamakan ajaran tauhid agama langit. Nabi Sulaiman sebagai “Sang Guru” spiritualnya menamakannya sebagai “Agama Budi” (agama Dienul Islam itu sendiri) kepada golongan jin dan para leluhur manusia di bumi nusantara.
Sang hyang Ismaya Jati mengajarkan konsep ilmu tauhid (ke Esa-an Tuhan) atau Dienul Islam sebagai ajaran agama dari langit ini kepada keturunannya dari kalangan jin (golongan dzuriyah Sanghyang) juga ke kalangan manusia para leluhur kita manusia raja-raja di nusantara pasca banjir besar Nabi Nuh sebagai konsep ajaran luhur para Nabi yang diberi nama oleh Ismaya Jati dengan bahasa sangsekerta “Kapi-tayan”.
Kapi-tayan atau Kapitayan sebagai bentuk metamorfosis perwujudan dari konsep Ketuhanan para Nabi yang diajarkan oleh Nabi Sulaman kepada Sayid Anwar (Sang hyang Nurcahya / leluhur golongan Sanghyang), kemudian diturunkan kepada keturunannya diantaranya Sang hyang Ismaya Jati (eyang Semar).
Jadi Kapi-tayan dan Sunda Wiwitan adalah konsep tauhid monotheistik dalam bentuk spiritual (pembersihan batin) maupun ritual (dalam bentuk sesembahan) kepada entitas Dzat Yang Maha Tunggal dari nama “Sang hyang Taya”. Di wilayah sunda bernama “Sang hyang Kersa” yang pengikutnya disebut Sunda Wiwitan.
Maka, dienul Islam itu adalah ajaran langit, ajaran tertua peradaban awal manusia di muka bumi yang dibawa oleh leluhur manusia yang paling tua yaitu Sanghyang Adama (Nabi Adam alaihi salam).
Kemudian konsep ajaran tauhid sebagai ajaran luhur ini diturunkan kepada Nabi Syits (Sang hyang Syta). Kemudian untuk golongan gaib diturunkan kepada Sayid Anwar (sang hyang Nurcahya), kemudian kepada cucu buyutnya Sang hyang Ismaya Jati (eyang Semar).
Jadi jika telusuri sejarah dengan benar sebenarnya Dien Islam sebagai ajaran tauhid keyakinan tertua awal peradaban manusia di muka bumi sebelum adanya ajaran agama-agama baru seperti Hindu, Budha dll ada di bumi.
Tapi, selama perjalanan berabad-abad konsep ajaran Kapitayan dan Sunda Wiwitan mengalami distorsi dari jalan ajaran utama aslinya yaitu tauhid.
Yang ada generasi Kapitayan Sunda Wiwitan saat ini adalah hanya merasa cukup menjalankan hakekat tanpa syariatnya.
Sebenarnya awalnya ajaran leluhur adiluhung (Kapitayan dan Sunda Wiwitan) itu menjalankan konsep Ismaya Jati yang diajarkan oleh Nabi Sulaiman adalah konsep hakekat dan syariat seperti yang telah diamalkan dan dilakukan oleh para leluhur pendahulunya.
Lalu mengalami pergeseran sinkritisme/ pencampur adukan keyakinan setelah masuknya agama baru Hindu ke nusantara, tercampur dengan filosofi Weda Hindu dengan menyebut entitas golongan Sanghyang sebagai “Dewa”. Dan dalam konsep ajarannya yang tertinggal hanya konsep hakekatnya saja.
Padahal konsep awal ajaran adiluhung Kapitayan dan Sunda Wiwitan memiliki konsep bahwa pengolahan jiwa itu bekerja dengan pembersihan jiwa yang akhirnya melahirkan rasa (roso / siir), itu hanya dapat tercapai mencapai nur /cahaya sempurna bila menjalankan lelaku ritual / syariat (amalan ibadah) pula.
Seperti anggota badannya melakukan amalan² kebaikan, perbuatan baik kepada manusia dan alam semesta dan melakukan lelaku ritual / syariat / penyembahan ruku’ dan sujud kepada Sang Semesta seperti yang diajarkan oleh Sanghyang Adama (Nabi Adam) sebagai awal pelopor ajaran tauhid monotheisme di bumi.
Konsep Ajaran KAPI-TAYAN dan SUNDA WIWITAN Saat Ini
Jika di dalam perkembangan konsep Kapitayan dan Sunda Wiwitan telah banyak mengalami perubahan dan pergeseran dari konsep aslinya yang adiluhung.
Bila dalam syariat Islam konsep Kapitayan saat ini atau Neo Kapitayan dan Neo Sunda Wiwitan bisa dibilang seperti cabang dari ilmu hakekat dan ma’rifat atau bagian bidang dari ilmu Suluq nya, atau ilmu tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) atau diistilahkan oleh sebagian orang sebagai tasawufnya.
Konsep dasar ajaran Kapitayan Sunda Wiwitan sebetulnya ilmu tauhid yang diajarkan oleh Nabi yaitu membangkitkan kesadaran sejatinya diri dibentuk melalui mengolah jiwa (bukan perasaan) dan bukan semata-mata oleh pikiran (akal / logika).
Karena pemikiran atau pengolahan akal itu bekerja dengan konsep logika atau rasio. Sedangkan pengolahan jiwa itu bekerja dengan konsep rasa (roso / siir) bukan “perasaan”.
Konsep ini untuk mengenal Tuhan yaitu Sang hyang Allaah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai Tuhan Yang Maha Tunggal dengan pembersihan jiwa.
Konsep pengolahan jiwa itu dengan pembersihan hati atau tazkiyatun nafs ini tentunya dengan bimbingan Guru yaitu Nabi. Yang bisa mengarahkan untuk berkomunikasi langsung dengan jatidiri (ruh sejati) dan dapat bersinergi dan menyambung energi bersatu dengan alam semesta.
Pengolahan jiwa dengan pembersihan hati akan membangkitkan ruh sejati (qolbun salim). Karena ruh sejati cenderung kepada Al Haq (kebaikan) hadir sebelum ada kaidah ilmu, sebelum tafsir, dan sebelum pertimbangan maslahat dan mudharat (kebaikan dan keburukan).
Ketika seseorang hanya hidup di dalam alam pikiran, ia akan mudah terjebak dalam ilusi, asumsi, argumentasi dan teori yang mengarah kepada perdebatan (atau egosentris) dan perdebatan itu cenderung kepada hawa nafsu.
Konsep Kapitayan Sunda Wiwitan adalah warisan dan adopsi dari ajaran semesta atau ajaran tauhid yang pernah diajarkan kepada manusia oleh leluhur utama manusia (yaitu para Nabi). Adalah konsep monotheistik_ajaran semesta Dien Islam itu sendiri karena sbb :
1. Didalam konsep Kapitayan Sunda Wiwitan memiliki konsep monotheistik menyembah kepada Tuhan, kepada Dzat Yang Maha Tunggal, Maha Satu, yang tidak bisa diserupakan dengan makhluk apapun yang disebut dengan Sanghyang-Taya (dalam Kapitayan) dan Sanghyang Kersa (dalam Sunda wiwitan).
Ini merupakan konsep Dienul Islam, karena ajaran tauhid mengajarkan untuk menyembah kepada Dzat Yang Maha Tunggal yang tidak boleh diserupakan oleh apapun, “Laisa kamislihi syaiun..” Tidaklah Allaah serupa dengan makhluk Nya.
2. Didalam konsep Kapitayan Sunda Wiwitan memiliki konsep menjauhi perdebatan dan penjustifikasi (tidak bermudah-mudah mencap atau menjudge orang lain buruk). Ini merupakan konsep Dienul Islam yaitu menjauhi perdebatan (jidal) dan tidak bermudah-mudah mencap orang lain buruk (tidak mudah mentahdzir orang).
3. Didalam konsep Kapitayan Sunda Wiwitan memiliki konsep lebih mengedepankan budi pekerti (maka di istilahkan “agama Budi”) dan pengolahan jiwa agar hati selalu bersih. Ini merupakan konsep Dien Islam, yaitu mengedepankan akhlak dan adab atau Akhlakul karimah sebelum berilmu, karena Baginda Nabi bersabda, ‘Aku diutus untuk manusia untuk menyempurnakan akhlaknya manusia..”. Dan konsep Dienul Islam adalah tazkiyatun nafz, yaitu pengolahan rasa dengan pembersihan jiwa selain menjalankan ritual amalan sholeh (amalan ibadah).
4. Didalam konsep Kapitayan Sunda Wiwitan mengedepankan lelaku spiritual dalam rangka melahirkan kesadaran yang lahir dari rasa (dengan bersemedi). Ini merupakan konsep Dienul Islam, yaitu seorang mukmin menjalankan ritual lelaku spiritual dengan berdzikir (bersemedi) dalam rangka pembersihan jiwa dengan mengkosongkan diri yang ada hanya Allaah untuk menghadirkan jiwa (ruh sejati). Ini adalah rekonstruksi penyatuan jiwa dengan Sang Semesta.
5. Perbedaanya antara konsep Kapitayan Sunda Wiwitan dengan risalah Dien Islam adalah Konsep Kapitayan Sunda Wiwitan hanya memfokuskan kepada “kedalam diri”, yaitu pengolahan jiwa (roso), pengosongan diri (pembersihan jiwa / tazkiyatun nafs) tanpa mempraktekkan ritual amalan badan / amalan dhohir (praktek ritual amalan ibadah syariat).
Sedangkan konsep risalah tauhid (agama semesta / Dienul Islam) adalah memfokuskan dan mempraktekkan dua-duanya yaitu kedalam diri dan juga prilaku diri / “keluar diri”. Dalam konsep agama semesta Dienul Islam secara spiritual mengamalkan praktek pengolahan jiwa (roso) dan pembersihan jiwa menuju “ruh sejati” (perjalanan spiritual tazkiyatun nafs). Dan juga mengaplikasikan amalan badan / dhohir dengan melakukan amalan ibadah (rukun Islam).
Jadi jiwa atau “ruh sejati” itu tidak hanya sekedar meyakini di dalam batin atau hati saja atau ucapan (lisannya) saja, tapi juga harus dibuktikan dengan kebaikan perbuatannya dalam bentuk amalan badan (dhohir). Ini sebagai manifestasi keseimbangan dan keselarasan antara perjalanan ritual (ibadah) dan spiritual (batin).
Salah kaprah dan gagal paham sejarah bila ada yang mengatakan Dien Islam adalah “budaya asing” atau Islam adalah “agama baru”. Dan salah kaprah juga bila Dien Islam hanya disebut agama yang hanya mengajarkan praktek-praktek simbolik ritual ibadah semata tanpa ilmu batin (ilmu hakekat).
“KONSEP AJARAN “NEO KAPITAYAN” DAN “NEO SUNDA WIWITAN” KONSEPNYA SAMA DIDALAM “SPIRITUAL”, BEDANYA TIDAK MELAKSANAKAN “RITUAL” (AMALAN IBADAH)”
Maka di dalam tradisi Kapitayan dan Sunda Wiwitan dalam laku spiritual, kesadaran sering lahir dari rasa. Rasa itu hadir dari pengolahan batin dengan cara hening dan pembersihan jiwa, ini merupakan konsep tauhid didalam Dienul Islam.
Kesadaran tumbuh dari pengolahan jiwa yang bersih dan jujur, maka akan memunculkan rasa cinta (mahabbah), rasa harap (roja’), rasa takut (khauf) dengan hening dan kepekaan batin tanpa harus menjelaskan.
Dalam konsep ajaran Kapitayan dan Sunda Wiwitan sering melakukan hening, yakni saat rasa itu berspiritual, kemudian menggetarkan batin, dalam diam rasa menyatu dengan alam. Di sanalah kesadaran tidak dipikirkan, tetapi dirasakan. Lelaku spiritual ini sebetulnya bagian dari amalan ritual dienul Islam dalam tazkiyatun nafs sebagai ajaran semesta.
Pikiran boleh mengarahkan, namun kesadaran jiwa lah yang menghidupkan kesadaran. Kesadaran yang melahirkan dan memunculkan ruh sejati.
Apabila sudah selaras antara batin, lisan dan dzohirnya, itu artinya telah seimbang antara hakekat dan syariat nya. Inilah konsep awal dari ajaran adiluhung Kapitayan dan Sunda Wiwitan.
Awalnya dikenalkan tentang ilmu hakekat (ilmu mengolah jiwa dan rasa) kemudian berlanjut dengan ilmu syariat (yaitu melakoninya dengan amal perbuatan ritual ibadah). Maka diri di sini akan mewujudkan rasa “Manunggaling kawula Gusti”.
Agama semesta ajaran tauhid yang telah melahirkan ajaran monotheisme purba yaitu Kapitayan dan Sunda Wiwitan, awalnya dua ajaran ini menjalankan dan mengamalkan dua konsep tauhid, yaitu menjalankan syariat (ritual ibadah) dengan juga harus disertai hakekat (pengolahan spiritual jiwa).
*KONSEP AJARAN KAPITAYAN DAN SUNDA WIWITAN MENGALAMI DISTORSI DAN PERUBAHAN DARI KONSEP AJARAN ASLINYA*
Ditengah perjalanan, ajaran leluhur Neo Kapitayan dan Neo Sunda Wiwitan mengalami perpecahan dan bertransformasi ke dalam berbagai bentuk spiritualitas_serta praktik budaya di Jawa dan Sunda. Yang biasanya masuk kedalam “komunitas budaya” dengan bentuk aliran kepercayaan kepada Tuhan YME.
Perpecahan dan distorsi sebagai akibat penolakan terhadap ajaran luhur agama tauhid yang sudah disempurnakan oleh Baginda Nabi Rasulullah Muhammad sebagai Nabi terakhir, penyempurnaan konsep ajaran monothestik agama langit terhadap Sanghyang Taya atau Sanghyang Kersa dan penutup risalah para leluhur (para Nabi).
Maka yang terjadi bagi para komunitas budaya yang masuk dalam pengikut dan penganut ajaran leluhur, mereka tidak mau melaksanakan ritual ibadah (seperti sholat / rukun Islam / syariat), tapi merasa cukup hanya dengan “eling” kepada Tuhan dengan melaksanakan lelaku spiritual (secara hakekat / batin saja).
Ini ibarat, tidaklah seorang laki-laki bisa dikatakan mencintai seorang gadis jika cukup hanya dengan di hati saja (secara batin saja / hakekat), kecuali ia mencintai juga harus dibuktikan pula dengan amalan anggota badannya (secara dhohir / syariat / bentuk perbuatannya).
Ada kaidah luhur dari leluhur manusia (para Nabi) yang pernah disampaikan oleh Pujangga Islam Ronggowarsito di dalam seratnya Kitab Paramayoga, ada sebuah pesan dan nasehat spiritual:
“Punapa artos hakekat menawi sanes tanpo syariat.. lan punapa artos syariat menawi sanes hakekatnya..”
Apa arti Hakekat kalau bukan tanpa Syariat. Dan apa arti Syariat kalau bukan Hakekatnya.
Artinya..
Apa arti lelaku spiritual / pengolahan jiwa “kedalam diri” (lelaku hakekat) kalau tanpa disertai ritual ibadah (lelaku syariat). Dan apa arti Syariat (ritual ibadah) kalau bukan disari Hakekatnya (spiritualnya / pengendalian rasa / pembersihan jiwa).
Akhirnya penulis berpesan,
Jangan sampai dikatakan, banyak yang mengaku sebagai pelaku dan penjujung ajaran leluhur (Kapitayan atau Sunda Wiwitan) dan mengerti konteks dan konsep “ilmu adiluhung” leluhur, tapi lelaku dan prilaku sifat dan lisannya suka mencela dan melecehkan keyakinan agama lain. Artinya ia bukanlah pengikut dan penjunjung ajaran leluhurnya, karena jiwanya, lisannya dan prilakunya tidak selaras dengan ajaran adiluhung sejati.
Ada pesan spiritual dari leluhur keturunan Bathara Guru golongan Sang hyang :
Dadi manungso iku
Sing iso ngatur urip / dunyo..
Ojo gelem diatur dunyo..
Nanging ojo nglalek’ake aturane sing gawe Urip ning Dunyo..
Jadi manusia itu
yang bisa mengatur dunia..
Tapi jangan mau diatur Dunia..
Tapi jangan melupakan aturan yang Menciptakan Hidup di Dunia..
Islam iku agama budi lan dalan keslametan keslametan islam iku mlakok’ake hakekat lan syariat menawa pengin slamet Urip dunya akheratmu.._
Islam itu agama Budi dan jalan keselamatan
Keselamatan Islam itu menjalankan hakekat dan syariat jika ingin selamat hidup dunia akheratmu..
Dawuh Sang hyang Ismaya Jati (Eyang Semar):
Ada sebagian manusia yang hanya melakoni ilmu “hakekat” (ilmu batin / sekedar cukup “eling” saja kepada Tuhannya) tanpa disertai syariat (ritual ibadah penyembahan kepada Tuhannya), bersikap seperti itu, ibarat bahasa jawanya adalah..
“Jarkoni, Iso ujar ora iso ngelakoni..”
Artinya, paham teori paham ilmu “dalam diri”, tapi prilakunya tidak bisa melakoninya / mengaplikasikan dirinya sendiri, atau prilakunya tidak selaras / tidak sesuai dengan konsep “kedalam diri”.
Semoga ini bermanfaat untuk para sedulur pencinta adiluhung nusantara sejati, ajaran luhur agama semesta sejati,
Rahayu Kamulyaning Jagad.
Sumber literasi :
• Kitab Serat Paramayoga, karya R.Ng. Ranggawarsita
• Kitab Qashash Al-Anbiya, karya Ibnu Katsir
*) Penulis adalah Analis Spiritual Pengamat Mitologis, Manuskrip Sejarah Peradaban Dunia & Gerakan Pemikiran Budaya dan Agama.
Leave a comment