SMA Negeri 2 Gunungputri Bogor Gelar Festival Budaya Jepang, Swiss No Bunkasai

SMA Negeri 2 Gunungputri adakan pentas sastra/ budaya Jepang

BOGOR (KM) – Sekolah Menengah Atas Negeri 2 gelar Festifal Budaya Jepang Perhelatan pagelaran Festival ini dilaksanakan di lapangan sekolah, Kamis (22/2).

 

Festival ini merupakan ajang promosi budaya, musik, bahasa, menggambar dan ketwork sekaligus menampilkan kemampuan bahasa jepang dalam berpidato yang nanti akan jadi bahan penilaian bagi siswa kelas 12 karena ini merupakan salah satu mata pelajaran di SMAN 2 Gunung Putri ini yang akan di ujikan di akhir semester akhir tahun ini menuju kelulusan.

 

Saat ini aneka kebudayaan dari Jepang yang juga disebut Negeri Matahari Terbit sudah akrab dengan sebagian  masyarakat Indonesia berkat adanya jalinan kerjasama, pertukaran pelajar dan budaya. Hal itu ditunjukkan dalam bentuk tayangan animasi Jepang, maraknya rumah makan khas Jepang, barang impor asal Jepang, dan permainan kostum karakter fiksi Jepang. Dalam lingkungan sekolah, tidak sedikit sekolah yang memberikan pengajaran Bahasa Jepang sebagai mata pelajaran lintas minat.

 

Di luar pembelajaran bahasa Jepang, di sekolah juga ada Festival tahunan Bunkasai. Festival tersebut adalah salah satu contoh bentuk apresiasi terhadap kebudayaan Jepang yang diadakan oleh Permusyawaratan Guru Mata Pelajaran (PGMP) Bahasa Jepang.

 

Nama acara ini diambil dari kata dalam bahasa Jepang, yaitu bunka dan sai – masing-masing memiliki makna kebudayaan dan festival. Tahun ini merupakan kesempatan ke-1 atas bimbingan dari guru bahasa Jepang sendiri yaitu Mugi Lestari.

 

Kegiatan pengenalan budaya Jepang terdiri dari empat bidang yang ditampilkan dalam ruang tersendiri, mulai dari upacara minum teh, membuat makanan khas Jepang, pemakaian pakaian tradisional Jepang, sampai menulis kaligrafi. Acara ini didemonstrasikan serta dipandu oleh orang dari Jepang.

 

Kegiatan SWISS NO BUNKANSAI sangat memberi peran strategis usai nanti siswa XII lulus karena kegiatan ini didukung  Japan Foundation dan juga pihak Dubes Jepang.Sekolah SWISS mengucapkan terimakasih kepada Kedubes Jepang  mendukung program sekolah dalam pengembangan Seni Budaya Jepang bagi semua siswa SWISS.

 

“Dalam rangka keberhasilan kurikulum sekolah dibidang Sastra Jepang pihak sekolah mendapat pembina atau guru pengajar dari guru Jepang  yang dipanggil  NP. Pengajar NP dari Jepang ini dibayar dan difasilitasi oleh  Japan Foundation dan Kedubes Jepang  jadi tidak membebankan keuangan sekolah ,” ujar  Wakil Kepala Sekola Leo Chandra disela-sela acara tersebut.

 

Menurutnya, pelajaran Seni Budaya  dan Sastra Jepang sudah diberikan kepada siswa didik mulai mulai kelas X sampai XII.  Ajang SWISS NO BUNKANSAI diikuti kelas XII sebayak 390 siswa menjadi pusat ujicoba sekalian ujian siswa didik dan  mempraktek ilmu satra Jepang yamg sudah tiga tahun diterima di kelas.

 

Dijelaskannya, sebelum siswa didik melakukan  pegelaran ini,  siswa sudah banyak diberi  ilmu sastra Jepang baik secara tioritis yang didapatkan pada saat dikelas oleh  Guru pengajar Bahasa Jepang  dari sekolah maupun dari Guru NP Jepang.

 

“Melalui Pentas Seni sastra Jepang siswa selain dapat langsung pengenalan juga makin mendalami kebudayaan  Jepang.  Sesuai Program sekolah SWISS NO BUNKANSAI adalah kegiatan ujian sekolah  penambahan nilai pelajaran untuk kelulusan siswa kelas XII,” tambah Sensei Mugi Lestari, SS.

 

Leo Chandra mengakui dengan adanya SWISS NO BUNKANSAI daya minat siswa didik dapat  meningkat yang  ingin belajar ke Jepang tahun ini. Selain mendalam ilmu Kebudayaan Jepang dan siswa didik menambah kepercayaan  siswa yang berminat belajar Negara Matahari itu.

 

“SWISS selalu mengembangkan inovasi sesuai sistim pendidikan nasional baik Kurtilas dan Kurikulum Merdeka yang diterapkan.   Dengan minat besar memperdalam  budaya sastra Jepang ini. Diharapkan dengan strategi yang lulus dari  SWISS dan ingin melanjutkan akademik   yang akan belajar ke Jepang makin banyak diterima.

 

Sebelum nya dijelaskan Leo Chandra sudah ada beberapa siswa SWISS yang belajar bahkan  magang di Jepang.

 

“Kita berharap siswa yang berminat ke Jepang dapat bertambah,” lanjutnya.

 

Reporter: Gats

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*