Pembesar LDII Kelimpungan Menyusul Dua Pentolannya dari Kalangan Selebriti Disomasi

Artis Ben Kasyafani dan Ida Royani

Makassar (KM)- Beberapa hari terakhir ini jagat media ramai memberitakan dua orang selebriti, yakni Ben Kasyafani dan Ida Royani yang tiba-tiba menjadi sorotan publik, menyusul setelah keduanya terlihat perbincangan podcast di sebuah chanel youtube.

Akibat perbincangan podcast itulah, keduanyapun mendapat somasi dari mantan pengikut sebuah kelompok sempalan, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia)

Somasi itu dilayangkan kepada kedua orang artis, Ben Kasyafani dan Ida Royani, karena pernyataan mereka berdua yang merasa bangga menjadi warga LDII.

Dalam podcast channel youtube LDII tv itu, keduanya berbincang dan sama sama menyatakan rasa bangganya sebagai pengikut LDII.

Dari pernyataan bangga itulah yang memicu terlontarnya somasi dari sejumlah mantan pengikut LDII.

Imam Nasai, yang merupakan salah seorang mantan Dai LDII dalam keterangannya kepada Kupas Merdeka mengatakan, somasi itu didasarkan kepada timbulnya keresahan di hati para mantan pengikut LDII, bahwa bagaimana mungkin orang-orang itu merasa bangga menjadi pengikut dari sekelompok orang yang nyata-nyata:

– Menganggap kafir seluruh kaum muslimin, hanya lantaran tidak segolongan dengannya.

-Menganggap murtad, Orang-orang yang keluar dari organisasinya.

-Terbukti memutus silaturahim antara para pengikutnya dengan orang yang keluar dari golongannya.

“Mereka juga membiarkan isteri saya melakukan poliandri, pengurus-pengurus LDII tahu bahwa saya dan isteri belum resmi bercerai, tapi sudah dinikahkan dengan lelaki lain dari kelompok mereka. Karena menurut pemahaman mereka seorang wanita yang suaminya keluar dari kelompok LDII, maka wajib bercerai dan sudah halal untuk dinikahi. Banyak mantan pengikut LDII yang menjadi korban. ” ujar Nasai.

Kelompok LDII ini juga dikatakan, menghalalkan darah, harta dan kehormatan para mantan pengikutnya, dengan dalih bahwa mantan pengikut LDII itu murtadun yang halal dibunuh.

Hanya saja mereka tidak berani melakukan pembunuhan itu secara langsung, karena mereka takut terkena jeratan hukum, tetapi pembunuhan karakter dilancarkan, upaya pembunuhan melalui media ritual mistik atau qunut nazilah, itu fakta dan benar-benar terjadi di kalangan LDII. Telah berkali-kali Imam Besar LDII mengeluarkan perintah untuk melaksanakan sholat qunut untuk mendoakan kerusakan kepada para mantan jemaatnya yang dinilai telah berkhianat.

“Bangga menjadi warga LDII, sama artinya mereka bangga dengan ajarannya yang takfiri, bangga atas kelakuan mereka yang dzalim, bangga atas tindakan-tindakan mereka yang melecehkan. Melecehkan ayat-ayat Allah, melecehkan sunnah Rasulullah, melecehkan kaum muslimin.”lanjut Nasai yang dihubungi media ini.

Fakta-fakta itulah yang dinilai sebagai sebuah pelanggaran oleh para mantan pengikut LDII, yang kemudian memicu lahirnya somasi kepada artis Ida Royani dan Ben Kasyafani, yang merupakan jamaah LDII.

Publik pun heboh, dan akhirnya memaksa pihak LDII angkat bicara, melalui Ketua Departemen
Komunikasi dan Informasi Media, Ludhy Cahyana membantah bila organisasinya dikatakan melakukan pelanggaran yang dimaksud.

Kuasa Hukum para mantan Jemaat LDII, Ikhwan Tony, SH mengatakan, bantahan yang keluar dari pengurus LDII itu adalah sebuah bantahan yang ibarat menepuk air di dulang terpercik muka sendiri.

“Bagaimana mungkin dia membantah, sedangkan nyata dan jelas Imam Besar LDII, Sultan Aulia dalam berbagai jejak digitalnya menyebut orang-orang Islam di luar kelompoknya adalah kafir, bahkan disamakan dengan tai bonjrot dan turuk bosok.” kata Ikhwan Tony.

Pihak LDII menyatakan kelompok mereka tidak sesat, karena acara dan kegiatannya dihadiri pejabat, Rakernas nya dibuka presiden, didatangi calon presiden, ditutup oleh wakil presiden.

“Kedatangan para pejabat dalam sebuah kelompok sesat, tidak akan mengubah status sebuah kelompok, dari sesat menjadi tidak sesat. ” Lanjut kuasa hukum para mantan jemaat LDII, Ikhwan Tony, SH saat dihubungi pada Ahad (22/10/2023) hari ini.

Ikhwan Tony mengatakan, sesat atau tidak sesatnya sebuah kelompok, bukan ditentukan oleh datang atau tidak datangnya pejabat negara di dalam kegiatan-kegiatan mereka.

“Kesesatan LDII nyata dan jelas berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh MUI. Memang benar LDII mengkaji Al Quran dan Al Hadist, tetapi hanya sebatas teori, bahkan hanya dijadikan kedok, sementara yang menjadi pedoman mereka dalam bermuamalah dan beribadah adalah Ijetihad Imam nya.
Memang benar LDII bersaksi bahwa Muhammad sebagai Rasulullah, tetapi yang dijadikan contoh dalam beribadah maupun bermuamalah adalah sunnah imamnya.
Bahwa memang benar mereka sholat menghadap ke Baitullah, tetapi kiblat mereka yang sesungguhnya adalah Wali Barokah-Kediri.” jelas Ikhwan Tony.

Menurutnya, segala bentuk amalan, ajaran, syariat dan peraturan-peraturan yang berlaku di dalam kelompok LDII, harus sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Amirnya yang berpusat di Wali Barokah, Burengan Kediri, dan itu jelas jelas menyalahi prinsip kebenaran ajaran Islam yang harus sesuai dengan syariat, berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

Reporter: Daeng Khairil

Editor: red

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*