Upgrade Skill Wartawannya, Media Kupas Merdeka Gelar Kajian Online Seputar Liputan dan Penulisan yang Akurat

Pelatihan jurnalistik Kupas Merdeka digelar secara daring pada Rabu 6/4/2022 (dok. KM)
Pelatihan jurnalistik Kupas Merdeka digelar secara daring pada Rabu 6/4/2022 (dok. KM)

BOGOR (KM) – Redaksi media Kupas Merdeka menggelar kajian online seputar teknik liputan dan penulisan berita dengan nara sumber utama Pimpinan Umum kupasmerdeka.com, Hasan Jawwad pada Rabu 6/4.

Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka untuk meng-upgrade skill kewartawanan awak media kupasmerdeka.com sebagai bentuk kewajiban pembinaan perusahaan media, sekaligus sebagai ajang silaturahmi tatap muka secara online bagi puluhan wartawan Kupas Merdeka yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Pendalaman materi kali ini berfokus perihal penulisan berita. Meski materi ini sudah tertuang dalam pedoman penulisan di halaman website kupasmerdeka.com, namun secara praktiknya belum sepenuhnya dipahami dan dikuasai awak media di lapangan, sehingga menjadi penting sebagai ajang mengingatkan kembali pola pemberitaan dan gaya penulisan yang dianut media ini.

“Penggunaan gelar akademik dihilangkan, namun penggunaan gelar militer atau polisi tetap dipakai. Penyebutan gelarnya pun hanya pada penulisan pertama kali ketika pemakaian gelar itu disebutkan,” kata Hasan dalam paparan materinya.

Kendati dilakukan secara daring, meeting via Google Meet yang dipandu oleh Elok, wartawan yang bertugas di wilayah Kota Depok itu menjadi lebih hidup dengan adanya berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta.

Iing, misalnya, wartawan yang bertugas di wilayah Serang, menanyakan soal penulisan gelar haji yang dipakai pada nama seseorang, mengingat gelar haji bukanlah gelar akademik dan juga bukan gelar militer atau kepolisian.

Advertisement

Menanggapi pertanyaan tersebut, Hasan dengan luwes menjawab bahwa gelar tersebut disesuaikan dengan konfirmasi kepada yang bersangkutan. “Gelar haji bisa masuk dalam gelar yang dikondisikan sehubungan dengan ketokohan seseorang, misalnya,” jelas Hasan yang juga rutin tampil sebagai host di program acara Maula TV.

Host Elok juga menanyakan jika berita yang sudah tayang ternyata tidak sesuai dengan obyek yang diberitakan. Bagaimana solusinya?

Penasehat KM, Marsono RH, yang juga hadir sebagai peserta daring, turut memberikan jawaban bagaimana langkah yang perlu dilakukan agar tidak terjadi lagi berita yang sudah ditayangkan, ternyata mendapat komplain oleh nara sumber atau obyek berita.

“Pada saat pembuatan draft berita, harus dicermati betul agar tidak terjadi salah tulis dan salah kalimat. Setelah selesai bisa dikonfirmasikan ke obyek berita atau narasumber. Jika sudah disetujui, lalu dikirim ke editor. Atau jika tidak atau belum disetujui, kirim saja ke editor supaya dilakukan ‘finishing’ dan cepat tayang,” ungkap Marsono yang merupakan wartawan senior dan masih aktif di KompasTV ini.

Reporter: Red

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: