Pengamat Sayangkan Sikap Pemkot Bogor yang tak Pernah Libatkan Budayawan

Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor (stock)
Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor (stock)

BOGOR (KM) – Undangan Focus Group Discussion (FGD) “Storyline Kerajaan Sunda dan Kajian Penataan Situs Batu Tulis” yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor dengan jadwal pada Jumat 18 Desember 2020 pukul 14.00 WIB mendapat kecaman keras dari para tokoh budaya Kota Bogor.

Pemerhati budaya Saleh Nurangga membenarkan adanya undangan FGD tersebut yang dikeluarkan atau disebarkan Jumat 18/12 pada pukul 16.50 WIB, sedangkan agendanya pada pukul 14.00 WIB.

“Ya sangat jelas ini berarti tidak melibatkan budayawan yang ada,” ungkap Saleh yang juga menjabat Ketua Tim Advokasi Sumur 7 kepada kupasmerdeka.com semalam.

Saleh juga mengatakan, sikap Disparbud yang tidak melibatkan budayawan ini sudah terjadi sejak satu tahun yang lalu. “Pertama, kami di Balaikota, para budayawan tidak diberikan suara dan pendapatnya, hanya dipaksa mendengarkan rangkaian presentasi konsil kota pusaka,” katanya.

“Lalu di Kelurahan Batu Tulis, lagi-lagi kami hanya mendengarkan konsep yang sudah ada,” jelas Saleh.

Tentunya, lanjut Saleh, pihaknya sangat menyayangkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dan juga Wali Kota Bogor, yang “tidak pernah melibatkan dan mendengarkan” para budayawan Bogor.

“Ya Wali Kota salah menempatkan orang, hendaknya menempatkan seseorang pada porsinya, yang paham sejarah, mengetahui isi budaya yang ditempatkan di Disbudpar. Ini sangat politis dan menyangkut masalah anggaran,” terang Saleh.

Advertisement

Lebih lanjut Saleh mengatakan, atas nama pribadi dan lembaga, terkait hal tersebut, pihaknya akan memantau dan akan melayangkan somasi, hingga menembuskan ke Ombusman.

“Dari hal ini tidak habis pikir, bagaimana bisa tiba-tiba ada konsil Kota Pusaka, siapa yang melegitimasi Kota Pusaka? Dimana seharusnya ada uji kualifikasi, uji materi, uji kredibilitas dan lainnya.”

“Ini sudah sejak satu tahun yang lalu, yang tidak pernah ada transparansi, dan juga tidak pernah melibatkan maupun mendengarkan budayawan Bogor,” pungkas Saleh.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Kota Bogor Atep Budiman mengatakan, perihal undangan FGD Storyline Kerajaan Sunda dan Kajian Penataan Situs Batu Tulis “hanya agenda rapat teknis.”

“Rapat tersebut agendanya teknis. Yang diundang juga terbatas di instansi terkait, teknis saja seperti TACB, TABGCB, tenaga ahli atau akademisi, Disparbud dan Bappeda,” ungkap Atep.

Ditanya tentang adanya elemen-elemen budayawan yang diundang, Atep mengatakan, bahwa komponen dan elemen atau komunitas budayawan “belum kami undang.”

“Tapi ada miskomunikasi undangan, saya sampai menyebar ke beberapa WAG. Makanya jadi banyak pada nanya juga ke saya,” pungkas Atep.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: