Bahan Bakar tidak ada, Pompa Pengendali Banjir di Tanjungbalai tidak Berfungsi

Pintu air pengendali banjir yang tidak beroperasi di Pulau Simardan, Tanjungbalai (dok. KM)
Pintu air pengendali banjir yang tidak beroperasi di Pulau Simardan, Tanjungbalai (dok. KM)

TANJUNGBALAI (KM) – Banjir yang terjadi di dua kecamatan dan beberapa kelurahan yang ada di Kota Tanjungbalai tidak juga surut, bahkan sudah merambah ke beberapa kelurahan lagi yang ada di sekitar Kecamatan Datuk Bandar dan Datuk Bandar Timur.

Awak media mencoba menelusuri beberapa titik banjir yang paling parah dan tanggul yang ada di Kecamatan Datuk Bandar Timur, dari tanggul yang ada di Kelurahan Pulau Simardan hingga sungai di Kelurahan Selat Tanjung Medan. Di tempat ini, warga menjebol tanggul agar air bah dapat langsung menuju sungai yang ada di balik tanggul.

Menurut penuturan Ijah (40), seorang warga setempat, pihak pengelola yang membuat tanggul ini menutup alur sungai sehingga alur anak sungai terputus. Menurutnya, sudah puluhan tahun tidak pernah terjadi banjir separah yang sekarang. Tetapi sejak tanggul dibangun, banjir pun melanda kampung mereka. Hal ini dikatakannya kepada awak media pada hari Minggu 13/12 kemarin.

“Sebelum tanggul ini di bangun, kami tidak pernah kebanjiran. Tapi sekarang banjir terjadi terjadi mencapai hampir semeter. Gimana tak banjir, sungai terputus. Ditimbun untuk tanggul. Sekarang warga berbondong-bondong menggali tanggul. Sudah dua tanggul diputus warga,” pungkasnya.

Sementara itu, warga lainnya seorang pria yang turut menggali tanggul yang namanya tidak ingin disebut, mengatakan bahwa pompa air pengendali banjir tidak dihidupkan oleh pihak pengelola karena kehabisan bahan bakar minyak.

Advertisement

“Kalau pompa air itu konsisten hidup , banjir ini pasti tidak separah yang sekarang. Tapi menurut yang menjaga, mesin tidak hidup karena BBM tidak ada,” katanya.

Dugaan itu dibenarkan oleh penjaga pintu air di Pulau Simardan.

“Pompa air ini tidak hidup karena persediaan bahan bakar minyak tidak ada. Dan salah satu mesin pompa tidak berfungsi karena tidak ada oli mesin […] pintu air ini masih tanggung jawab PT. HAKA selaku kontraktor pembangunan dan belum diserahkan kepada Pemerintah kota Tanjungbalai,” terang Rian, salah satu pegawai magang di pintu air tersebut.

“Mesin ini tidak hidup dari kemarin (12/12) sampai hari ini. Karena bahan bakar minyak solar tidak ada. Satu mesin menghabiskan 35 liter solar perjam dikali 3 mesin, yang seharusnya empat mesin,” tambahnya.

Ia sendiri mengaku tidak berani meminta solar kepada Pemko Tanjungbalai lantaran pintu air tersebut masih di bawah pengelolaan swasta.

“Kami hanya tenaga magang. Kami tidak berani meminta bahan bakar minyak solar kepada Pemerintah Kota Tanjungbalai karena pintu air pengendali banjir ini masih tanggungjawab PT. HAKA. Belum serah terima kepada Pemerintah Kota Tanjungbalai. Dan salah satu mesin tidak berfungsi karena belum ada oli mesin,” terangnya.

Hingga berita ini ditayangkan, KM belum berhasil mendapat keterangan dari pihak PT. HAKA.

Reporter: Rizky
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*