Warga Desa Cidahu Pagaden Barat Keluhkan Aktivitas Perusahaan Produsen CO2

Ketua Forum Masyarakat Peduli Lingkungan RT 07/03 Desa Cidahu, Deny Amaruloh (dok. KM)
Ketua Forum Masyarakat Peduli Lingkungan RT 07/03 Desa Cidahu, Deny Amaruloh (dok. KM)

SUBANG (KM) – Sejumlah warga Desa Cidahu, Kecamatan Pagaden Barat, yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Lingkungan Dusun Karang Cegak RT 07/03 Desa Cidahu mempertanyakan aktivitas PT. Aneka Gas Industri (AGI) atau Samator Group yang bergerak di bidang produksi gas CO2 di wilayahnya.

Menurut Deny Amaruloh selaku ketua Forum, warga menduga perusahaan tersebut telah menyalahi kesepakatan produksi.

“Dalam kesepakatan dan saat sosialisasi, PT. AGI akan memproduksi CO2 namun sekarang banyak produk [lain] yang diproduksi seperti oksigen, nitrogen, asetilin, LPG, argon dan lainnya, yang kesemuanya memiliki tingkat bahaya dan resiko masing-masing apabila dipicu oleh api,” ucap Deny saat ditemui KM kemarin 18/9.

Selain itu, pihaknya meminta agar pihak perusahaan melakukan tes rapid  demi pencegahan penyebaran virus corona bagi karyawannya juga masyarakat sekitar, karena kendaraan distribusinya berlalu-lalang di antaranya ke Rumah Sakit, bahkan ada yang ditribusi ke luar kota yang berkategori zona merah.

Selanjutnya, ia juga meminta agar ada pembatasan jam operasional bagi truk. “Maksimal jam 21:00 WIB, selain bising juga kapasitas ruas jalan sempit karena klasifikasi jalan kabupaten yang sekarang kondisinya sudah rusak,” ujar Deny.

Menuyrut Deny, warga juga mengeluhkan bau gas yang busuk atau bau amoniak yang mengganggu, dan mempertanyakan kesiapsiagaan PT. AGI dalam penanggulangan kebakaran. “Karena pernah terjadi kebakaran pada 24 Agustus lalu di lahan tidur samping PT. AGI, saat itu terkesan karyawan pada bingung dan panik seakan tidak mengetahui SOP penanggulangan bencana kebakaran,” katanya.

Selain isu keselamatan dan operasional, Deny juga mempertanyakan kompensasi atau CSR untuk warga setempat, misalnya untuk pelaksanaan rapid test atau lainnya, karena selama PT. AGI berdiri sejak tahun 2010, “tidak pernah ada perhatiannya, termasuk serapan tenaga kerja dari lingkungan,” tutur Deny.

Advertisement

Kata Deny, sebenarnya permasalahan diatas sudah disampaikan melalui surat ke pihak manajemen PT. AGI. “Bahkan sudah empat surat kami layangkan, termasuk minta untuk audiensi, namun sampai saat ini belum ada pertemuan yang diharapkan,” pungkas Deny.

Sementara itu, Kades Cidahu Toto mengaku sudah mengetahui adanya permasalahan warganya yang menginginkan audiensi dengan pihak PT. AGI. “Saya sudah mengetahui adanya aspirasi dari warganya minta audiensi dengan pihak PT. AGI,” kata Toto saat dimintai keterangan oleh KM kemarin.

Kata Toto, hal itu sudah disampaikan ke pihak perusahaan, namun untuk bisa datang menemui warga atau tidaknya itu “tergantung mereka [PT. AGI].”

Lanjutnya, terkait kompensasi untuk warga, “sebetulnya setiap bulan sudah rutin diberikan oleh pihak PT. AGI ke [warga berinisial K] sebesar Rp800 ribu per bulan, namun peruntukannya kami tidak tahu menahu.”

“Mengenai kepedulian dari pihak perusahaan itupun sudah dilakukan belum lama ini, yaitu pengecoran jalan yang berlubang tepatnya ada sebagian di depan masjid pinggir kantor Desa Cidahu, dan itupun atas usulan pihak Pemdes Cidahu,” tambahnya.

Toto menjelaskan, untuk hal lainnya, selama ini pihak desa mendapatkan masukan dana dari PT. AGI yaitu Iuran Desa (urdes), dan itupun tertuang dalam Perdes.

“Dikarenakan saat ini tidak memungkinkan memungut urdes dari masyarakat, maka untuk menutupinya tentu desa memungut dari perusahaan,” ucap Toto.

Reporter: Lily Sumarli
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*