KUPAS KOLOM: Tik Tok, Retorika, Sosok dan Sebuah Pembelajaran

Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Bogor Brian Samosir
Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Bogor Brian Samosir

Oleh Brian Samosir, Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Bogor

Tidak bisa dipungkiri bahwa Tik Tok menjadi salah satu aplikasi paling hits di media sosial dalam beberapa kurun beberapa waktu ini. Platform sosial video pendek yang didukung oleh musik ini bahkan menduduki peringkat ketiga yang paling banyak diunduh sepanjang 2019 di luar game. Tik Tok bahkan menjadi satu-satunya aplikasi dari lima aplikasi terbesar yang bukan dimiliki Facebook.

Di Indonesia, fenomena pertumbuhan Tiktokers pun bergerak sangat pesat. Padahal pada 3 Juli 2018, Tik Tok sendiri pernah diblokir oleh Kominfo. Dengan bermodalkan argumen yang tidak berdasar dibangun sebuah retorika, yang terlihat seperti mencari sebuah shortcut penyelesaian masalah tanpa melihat kejadiannya secara luas dan utuh. Seolah mementahkan alasan sebelumnya, Kominfo malah membuka kembali aplikasi ini pada beberapa hari berikutnya.

Bahkan, aplikasi yang dulu sempat dianggap “sampah” oleh kebanyakan Netizen +62 malah menjelma menjadi primadona dalam smartphone. Tidak ada rasa malu, dan enggan seperti dulu lagi. Menjadi lebih aneh lagi, ketika dulu orang sangat anti dengan Tik Tok tiba-tiba menjilat ludah mereka sendiri.

Unggahan-unggahan dalam Tik Tok tidak hanya berseliweran diaplikasi tersebut, bahkan banyak dishare di media-media sosial lain semacam Facebook atau Instagram. Banyak akun-akun dalam media sosial lain yang sengaja dibuat khusus untuk unduhan video Tik Tok.

Kembali pada pernyataan diatas, bagaimana sebenarnya kita menilai baik buruknya sebuah platform yang ada di smartphone?

“Pornografi, pelecehan agama, banyak sekali pelanggarannya,” kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan kepada BBC Indonesia, 3 Juli 2018. Adalah sebuah pernyataan yang lucu, ketika Samuel menyalahkan sebuah aplikasi untuk pelanggar moral yang menjadi pengguna aplikasi tersebut. Bagaimana cara menilai moral? Apakah pelecehan, pornografi, dan hal lain yang dituduhkan secara serta-merta menjadi tanggung jawab platform ini? Kominfo sedang mencari sebuah shortcut untuk mencari pembelaan atau bisa jadi sebatas tindakan untuk memuaskan orang-orang saja.

Jika ingin berlaku adil, dengan dasar argumen seperti yang dicelotehkan oleh Kominfo, seharusnya Kominfo juga harus memberlakukan hal yang sama pada aplikasi semacam Mi Chat, Bigo, MeetKing, Tinder, Lovoo, Paktor, Badoo, BeNaughty dan Moovz yang juga sering disalahgunakan untuk kegiatan berbau pornografi dan hal buruk lainnya.

Sejak diperkenalkan pada 2016, Tik Tok memang sudah berubah menjadi raksasa media yang tidak bisa dibendung keperkasaannya.

Naik Turunnya Pamor Tik Tok dan Sosok Dibaliknya

Dalam World Tour Stand Up Comedy bertajuk Juru Bicara di Jakarta pada 2017 lalu, Pandji Pragiwaksono menyampaikan sebuah pernyataan yang menjelaskan tidak ada barang yang tidak laku-laku. Adanya barang yang dipasarkan secara salah. Pernyataan ini kemudian dipertegas lagi pada tweet nya pada 6 November 2017.

Dalam World Tour Stand Up Comedy nya Panji kemudian mengatakan bahwa semua barang itu harus dijual dengan syarat berada pada tempat dan waktu yang tepat. Bahkan sebuah barang tidak berhargapun bisa memiliki nilai ekonomis ketika kita dapat meramunya dengan tepat.

Hal ini sedikit banyak, bisa menjadi sebuah pembelajaran akan aplikasi Tik Tok. Di Indonesia bisa dikatakan bahwa aplikasi ini justru pertama kali dikenalkan oleh bocah-bocah yang dinilai bodoh dan belagu. Siapa yang tidak kenal sosok Prabowo Mondardo. Bowo Alpenliebe begitu nickname nya di media sosial. Sekitar tahun 2018, bisa dikatakan menjadi tahunnya Bowo bocah belasan tahun tersebut. Dia kerap mengunggah video-video Tik Tok nya pada platform media sosial lain yang kemudian justru mendapat tanggapan yang relatif buruk, sangat buruk bahkan dari para netizen. Jika kembali mengenang, kejadian dimana dia meminta Rp 80 ribu untuk sebuah foto bersma dengannya, pada acara meet and greet nya menjadikan Bowo Alpenlibe ini sebagai muara semua hujatan masyarakat maya. Kembali ke data diatas, dia lah yang menjadi salah satu faktor utama dimana banyak orang yang mengkritik aplikasi TikTok ini.

Tapi, itu dulu. Kisah lama yang seolah-olah tidak pernah terjadi, karena nyatanya sangat banyak orang yang mendambakan Tik Tok sekarang ini. Bicara moral, antara Tik Tok yang dulu dan sekarang justru memperlihata kondisi yang kian kesini kian buruk. Tapi mengapa Kominfo tidak bertindak lagi? Kembali ke pertanyaan diatas, apakah kegiatan pemblokiran dulu hanya sebatas tindakan untuk memuaskan orang-orang yang ternyata sekarang justru sudah puas karena Tik Tok masih ada?

Dalam kasus ini sebenarnya ada sebuah kesimpulan tersirat bahwa naik turunya pamor media sosial yang sudah didownload 1,5 miliar kali ini sebenarnya dipengaruhi juga oleh siapa sosok yang memperkenalkannya. Bowo Alpenlibe dalam kasus ini ternyata tidak tepat dipromosikan sebagai sosok yang memperkenalnya. Perawakan, umur, dan ke”alay”an bocah Tik Tok tersebut menjadi kenaifan sendiri dan tidak diterima pengguna media sosial yang umumnya lebih tua dari dia. Sosok Bowo dibully habis-habisan tanpa sebuah pemberitahuan, pengarahan, dan penjelasan yang memadai baik tentang aplikasinya pun cara bersikap. Harga diri sebagai seorang anak ingusan betul-betul dihabisi. Tik Tok pun ikut teredam bersamaan dengan sosok yang dianggap menjadi figur aplikasi ini.

Advertisement

Pada dasarnya keinginan setiap orang itu bisa ditentukan, diarahkan, diselaraskan. Sesederhana orang yang menganggap remeh Tik Tok dulunya dan sekarang malah menjadi candu.

Siapa tokoh atau sosoknya?

Itulah hal yang sangat berpengaruh dalam membangun, menentukan, mengarahkan keinginan seseorang.

Seperti sebuah studi kasus berdasarkan pengalaman penulis sendiri, ketika mulai berkuliah di Bogor. 2014 penulis tiba di Bogor dan untuk pertama kalinya merantau ketika menjadi Mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB). Sejak awal masuk penulis selalu mengandalkan kaki untuk bepergian kemana-mana. Ke kampus, beli makan, menuju tempat nongrong, kumpul dengan teman, pergi ke kosan teman, semua mengandalkan kaki, bahkan beberapa kali pulang jalan kaki selesai ibadah minggu yang notabennya punya jarak yang cukup jauh. Dan pada waktu itu, hal ini adalah hal yang “biasa”. Mengapa? Sederhana saja, karena kebanyakan orang melakukannya.

Tahun berganti, teman-teman penulis mulai berpikiran untuk memiliki motor. Ada yang mengirim motornya dari kampung halaman atau yang membeli motor bekas/ baru di Kota Bogor. Sekilas hal ini biasa. Malah disatu sisi cukup menguntungkan, karena semakain banyak peluang kita bisa meminjam motor seseorang. Tapi, tanpa sadar hal ini justru membentuk sebuah fenomena. Membangun sebuah kebiasaan baru. Secara perlahan, jalan kaki mulai ditinggalkan, berganti dengan motor yang jelas lebih efektif, dan cepat. Satu per saru teman penulis mulai memiliki motor.

Penulis sampai pada waktu itu sama sekali belum berpikiran untuk memiliki motor. Bisa jadi ini merupakan sebuah akumulasi hasil dari pengalaman selama 6 tahun SMP dan SMA dimana penulis selalu berjalan kaki dari rumah karena jarak tempuh yang dekat dengan sekolah. Jadi tidak perlu menggunakan motor.

Tapi lama kelamaan, pikiran itu mulai runtuh. Seiring dengan teman-teman yang mulai memiliki kendaraan roda dua, penulis -yang notabennya sebenarnya tidak memiliki urgensi apapun untul membeli motor- juga memutuskan ingin memiliki motor. Pandangan berubah mengikuti fenomena yang terjadi.

Secara tidak sadar penulis mengikuti orang lain dan membangun budaya yang baru. Budaya bermotor. Penulis yang tidak terlalu membutuhkannya pun membuat berbagai alasan-alasan mengapa harus memiliki motor.

Kembali pada kasus Tik Tok ini. Secara lebih luas, tulisan ini sebenarnya bukan semata-mata berbicara tentang Tik Tok. Ini tentang bagaimana perilaku ataupun keinginan kita bisa berubah atau dirubah. Lingkungan menjadi faktor krusial dalam menciptkan hal itu. Seperti penulis yang “dipaksa” membeli sebuah motor karena keadaan lingkungan.

Melalui lingkungan semua hal tentang diri kita akan dibentuk. Menurut anda mengapa orang tua rela merogoh duit banyak hanya untuk menyekolahkan anaknya di tempat-tempat ternama. Jika dikatakan guru dan para pengajar hebat-hebat, belum tentu juga. Pengajar hebat ada di setiap sekolah. Lebih dari itu, hal ini lebih kepada lingkungan yang lebih baik. Doktrin sekolah baik, mengarahkan pandangan orang tua untuk menyekolahkan anaknya disana. Wilayah itu pun terisi oleh orang-orang yang baik. Lingkungan yang baik pun terbentuk. Lingkungan yang dicari.

Tik Tok yang dulu dicap hina, berangsur-angsur diperbaiki nilainya. Mengapa? Karena banyak orang yang merasa “butuh” akan hal tersebut.

Seperti sebuah analogi jika anda ingin menjadi seorang matematikawan, bergabung dengan orang-orang yang menyukai matematika. Jika anda ingin menjadi atlet bergabunglah dengan komunitas atletik. Jika anda ingin menjadi sukses, bergabung lah dengan orang-orang bermental sukses. Termasuk, jika kau ingin hidup tidak jelas, rajin-rajin nongrong di Ruang Kopi beretorika sepanjang malam, tanpa menghasilkan sebuah hal yang berguna.

Tik Tok? Indonesia sedang kecanduan hal itu. Jadi, jika anda ingin memainkannya, anda berada pada lingkungan yang tepat.

Advertisement
Komentar Facebook