KUPAS KOLOM: Puisi untuk Presiden Jokowi

Kris Tan (dok. KM)
Kris Tan (dok. KM)

Oleh Kris Tan, Ketua Presidium Generasi Muda Khonghucu Indonesia (GEMAKU)

Puisi ini dipersembahkan kepada Presiden Jokowi sebagai respon dari kekecewaan penulis terhadap sikap Presiden Jokowi terkait pelemahan KPK dan RUU kontroversial yang hendak diluluskan oleh DPR.

“Pemerintahan maksudnya adalah melakukan jalan yang benar. Jikalau seorang pemimpin memerintah negara itu dengan baik dan benar, maka siapakah yang berani membantah?”

“Jika kelakuan pemerintah itu mulia, maka rakyat pasti akan menurut perintah secara sukarela, jikalau kelakuan pemerintah tidak bersih, maka rakyat juga tidak akan patuh, walaupun sudah diarahkan”

“Kesalahan yang dilakukan oleh seorang Pemimpin adalah seperti gerhana matahari dan bulan. Bila ia melakukan sebuah kesalahan, seluruh dunia akan bisa melihatnya. Bila ia segera memperbaiki dirinya sendiri, maka seluruh dunia akan mengaguminya”.

“Ada orang bertanya, bagaimanakah caranya agar rakyat mau menurut? Confucius menjawab, maka angkatlah orang- orang yang jujur dan singkirkanlah orang-orang yang curang dengan demikian niscaya rakyat akan menurut. Kalau diangkat orang-orang yang curang dan disingkirkan orang-orang yang jujur, niscaya rakyat tidak mau menurut”.

“Keinginan Rakyat itulah yang termulia, sedangkan keinginan Pemimpin yang paling terakhir artinya”.

“Menganggap kegembiraan rakyat itu sebagai kegembiraannya sendiri. Menganggap penderitaan rakyat sebagai penderitaan sendiri. Dengan
demikian. Rakyat akan menganggap kegembiraan dan penderitaan yang dialami oleh pemimpinnya sebagai kegembiraan dan penderitaan sendiri. Jikalau tahap ini telah tercapai, mustahil ia tidak menjadi pemimpin yang
besar”

“Menurunkan raja yang zalim demi kebaikan rakyat seumpama hujan yang turun pada saatnya”.

“Pemimpin ibarat kapal, rakyat ibarat air, air dapat membawa kapal berlayar namun air juga dapat menenggelamkan kapal”.

“Tuhan Melihat seperti Rakyat Melihat, Tuhan Mendengar seperti Rakyat Mendengar”.

Carrie Lam di Hongkong begitu ‘over confident‘ ketika dia kukuh bersama parlemen untuk meloloskan Undang-undang Ekstradisi, tapi dia lupa akan kekuatan rakyat. Rakyat mungkin awalnya takut dan tidak peduli, akan tetapi rakyat bergerak karena ketakutannya dan rupanya alam meresponnya dengan segera.

Hasilnya memang belum terlihat. Tetapi seperti dicatat oleh sejarah di negara manapun di dunia. Pemimpin yang mau introspeksi diri dan bersikap rendah hati, maka ia akan mendapat berkah. Semoga Presiden Jokowi sudi merenungkan hal ini. Shanzai

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*