Polres Nias Selatan Berhasil Ciduk Pria yang Perkosa Anak di Pemandian Umum

Pelaku pencabulan dan pemerkosaan anak di bawah umur (tengah) (dok. KM)
Pelaku pencabulan dan pemerkosaan anak di bawah umur (tengah) (dok. KM)

NIAS SELATAN, SUMATERA UTARA (KM) – Satreskrim Polres Nias Selatan berhasil menciduk seorang pria bernama Sokhinihaogo Telaumbanua (59) yang diduga kuat telah melakukan pencabulan dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur di Desa Silima Banua, Kecamatan Somambawa, Kabupaten Nias Selatan.

Menurut Kapolres Nias Selatan AKBP Faisal F. Napitupulu melalui Kasatreskrim Polres Nias Selatan AKP Antony Tarigan, 7 orang anggotanya yang dipimpin oleh Ipda Demonstar berhasil meringkus pelaku di dalam rumahnya, setelah beberapa kali sebelumnya melarikan diri dari jendela saat didatangi petugas.

“Sokhinihaogo Telaumbanua diduga kuat telah menyetubuhi anak di bawah umur berinisial MG sebanyak satu kali di tempat pemandian umum, Minggu 23 Sepetember 2018 sekitar pukul 11 siang. Saat ini korban masih berumur 13 tahun dan masih duduk di bangku Sekolah sebagai seorang pelajar, dan tinggal bersama orang tuanya di Desa Silima Banua Kecamatan Somambawa, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara,” terang AKP Antony.

“Pelaku melakukan pencabulan dan persetubuhan kepada korban dengan melakukan secara paksa, saat itu situasi di tempat permandian umum sedang sunyi, maka dengan leluasa pelaku melampiaskan nafsu bejatnya kepada korban berinisial MG di tempat tersebut,” ujar Antony.

Dia memaparkan, saat itu korban diminta secara paksa untuk melayani nafsu bejat pelaku, dan setelah selesai pelaku memberikan sejumlah uang sebesar Rp100.000 kepada korban. Setelah dua hari, korban menunjukkan suatu kelainan yang tidak biasa, dimana korban dilihat orang tuanya mengalami sakit dan terbaring di tempat tidur, seolah menjadi pendiam serta trauma dan menyimpan ketakutan yang mendalam.

Setelah orang tua korban membujuk anaknya dan menanyakan apa yang sedang dialami korban, saat itu juga korban memberitahu dan mengakui semua kejadian yang telah menimpa dirinya. Ketika mendengar pengakuan dari korban, orang tua korban langsung melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres Nias Selatan untuk meminta keadilan.

“Pelaku diduga kuat telah melanggar Pasal 81 ayat 1 dan 2 yo pasal 82 ayat 1 dan 2 Undang-Undang RI no 17 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, khususnya mengenai tindak pidana kekerasan terhadap anak di bawah umur, dimana dari hasil pemeriksaan dokter ditemukan adanya kelainan pada alat kelamin korban,” tegas Antony.

Usai penangkapan, pihak Satreskrim Polres Nias Selatan pun memeriksa tersangka dan merujuk korban ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

UU Perlindungan Anak No 35/2014 pasal 81 mengatur bahwa tiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Sementara Pasal 82 UU Perlindungan Anak ayat (1) menyebut bahwa tiap orang yang melanggar ketentuan pada Pasal 76E akan dipidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun, serta denda maksimal Rp 5 miliar.

Dilanjutkan pada ayat (2), apabila kejahatan pencabulan terhadap anak di bawah umur dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah sepertiga dari ancaman pidana yang berlaku umum.

Kini pelaku sedang meratapi nasibnya di sel Mapolres Nias Selatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di muka pengadilan.

Reporter: A Lase
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*