Tentara Bantu Warga Desa Pasegeran Buru Babi Hutan

Satgas TMMD Reguler 102 Banjarnegara Beserta Warga Memperlihatkan Hasil Buruannya di Desa Pasegeran, Pandanarum.
Satgas TMMD Reguler 102 Banjarnegara Beserta Warga Memperlihatkan Hasil Buruannya di Desa Pasegeran, Pandanarum.

BANJARNEGARA (KM) – Babi hutan adalah hama klasik yang menyerang pertanian atau perkebunan warga, terutama yang terletak didaerah pegunungan. Momok ini menjadi sebuah ancaman serius bagi para petani di Desa Pasegeran, Kecamatan Pandanarum, karena budidaya tanaman warga seperti jagung, semangka, melon, timun, padi maupun sayur-sayuran dirusak babi hutan. Acapkali para petani gagal panen dan mengalami kerugian akibat serangan hama ini.

Wajar jika para petani di Desa Pasegeran, antara lain di Dusun Pasegeran, Karanggondang, Kroya dan Dusun Jumbleng, menggelar aksi basmi hama babi hutan yang biasa menyerang tanaman warga dengan mendatangkan para pemburu lokal, Sabtu (14/7/18).

Ratusan warga setempat yang mayoritas petani pun melakukan iuran sebesar 50 ribu per KK untuk mendatangkan para pemburu. Jumlah yang besar jika dikalikan dengan 959 Kepala Keluarga Desa Pasegeran. Namun jumlah ini tidak semua digunakan untuk mendanai ratusan pemburu, namun juga sebagai kas desa untuk kepentingan umum. Termasuk membantu pendanaan TMMD Reguler 102 Banjarnegara, dengan anggaran total 1,4 M, salah satu sumbernya berasal dari swadaya masyarakat sebesar 127,6 Juta.

Satgas TMMD Reguler juga telah ditugaskan Dandim 0704 Banjarnegara Letkol Inf. Bagas Gunanto, untuk terlibat dalam perburuan babi hutan tersebut. Perburuan hama babi hutan serentak dimulai begitu mendapat komando dari Kades Aris Winarno. Ratusan warga baik tua dan muda serta para pemburu yang telah siap mulai bergerak menuju hutan untuk memburu babi hutan.

Kades Pasegeran Aris Winarno mengatakan perburuan masal babi hutan ini ditempuh karena keberadaannya yang sudah sangat meresahkan warga dan sudah tidak bisa lagi ditanggulangi secara berkelompok.

“Serangan babi hutan sudah sangat merugikan warga, karena membuat warga khawatir menanam tanaman pangan. Bahkan serangan babi hutan ini sudah mulai masuk lingkungan masyarakat di kebun rumah warga,” jelasnya.

“Kegiatan swadaya bersama tersebut, untuk menumbuhkan rasa kebersamaan warganya yang budidaya tanamannya seperti singkong, jagung dan padi diserang hama ini. Para pemburu tradisional berasal dari wilayah Desa Sirongge Kecamatan Pandanarum, Karanganyar, maupun Kecamatan Kalibening, bahkan ada yang datang dari Banjarnegarara, termasuk juga warga setempat,” tambahnya.

Para pemburu tradisional ini pada umumnya bersenjatakan “gedhek”, semacam tombak dari batang bambu sepanjang 2 meter. Bambu tersebut kemudian dibentangkan hingga 300 meter untuk menghadang babi hutan. Setelah dipasang, kemudian warga menggiring babi hutan dan diarahkan menuju gedhek tersebut. Di samping alat tradisional tersebut, puluhan anjing pemburu diikutsertakan. Satu dua diantaranya bersenjatakan senapan angin.

“Digedhek yang sudah dipasang, sebagian warga siap-siap di sana dengan membawa senjata tajam. Sehingga ketika ada babi hutan, warga yang ada di sekitar gedhek langsung membunuh dengan senjata tajam tersebut,” ungkap Kades Pasegeran.

“Untuk para pemburu yang berhasil mendapatkan buruannya, akan diberikan imbalan dengan hanya menunjukkan ekor dari babi hutan tersebut. Sedangkan untuk dagingnya, murni diserahkan kepada para pemburu atau kas pemburu sebagai tambahan penghasilan. Babi yang besar biasanya berbobot sekitar 120 Kg. Daging hasil buruan biasanya dijual para pemburu ke Kebun Binatang TRMS Serulingmas Banjarnegara untuk dijadikan pakan harimau. Daging celeng biasanya dihargai 6000 rupiah per kilogramnya,” lanjut Aris.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*