Kekeringan, Warga Pekon Darussalam Harus Jalan Hingga 1km untuk Dapatkan Air

Sumur bor di Pekon Darussalam yang sudah 6 bulan tidak mengairi sawah warga (dok. KM)
Sumur bor di Pekon Darussalam yang sudah 6 bulan tidak mengairi sawah warga (dok. KM)

TANGGAMUS, LAMPUNG (KM) – Pekon Darussalam, Kecamatan Gunung Alip, Tanggamus, sejak bulan Juni 2016 sudah cukup lama tidak diguyur oleh hujuan. Hal ini menyebabkan warganya yang berada di dusun Sukarame, Sembayangan, dan Darussalam mengalami kekeringan. Dari hasil pantauan KM, warga sudah mulai mengambil air untuk keperluan MCK (Mandi Cuci Kakus) dan kebutuhan lainnya di baloran, atau pancuran air yang bersumber dari gunung. Warga harus berjalan sejauh 500 meter hingga 1km dengan jalan yang cukup terjal untuk mendapatkan air.

Berdasarkan informasi warga,  desa Darussalam sebenarnya sudah memiliki sumur bor yang keberadaannya sudah sejak 6 bulan yang lalu. “Namun sampai detik ini belum pernah difungsikan. Padahal fungsi dari sumur ini ya untuk membantu warga jika terjadi kekeringan seperti ini,” ujar warga yang enggan disebutkan namanya itu kepada KM.

Tokoh masyarakat di dusun Sembahyangan menjelaskan bahwa mesin tersebut yang seharusnya untuk warga hanya berada di rumah kepala Pekon (Kades), dan belum bisa mengaliri ke rumah seluruh warga karena keterbatasan dana. “Mesin yang seharusnya dapat difungsikan untuk mengaliri air ke rumah warga malah ada di rumah kepala pekon, Supendi, padahal pembangunannya pun gotong royong seluruh warga Desa Darussalam ini,” ungkap tokoh masyarakat tersebut.

Advertisement

Menurut Supendi, sumur bor tersebut dibangun oleh Dinas Pertanian untuk mengaliri sawah warga. “Di tahun 2017, saya akan membangun sumur bor serupa yang khusus untuk dialiri untuk kebutuhan warga, bahkan perencanaannya air tersebut sudah siap diminum. Pembangunan sumur bor tersebut dibangun oleh LSM dari Belanda,” lanjutnya.

Namun keterangan Supendi dibantah oleh sejumlah pemuda di desa itu. “Selama 4 tahun menjabat, dia belum pernah berbuat yang bermanfaat untuk warga, bahkan saat desanya akan dipasang tiang listrik untuk aliran listrik baru ke rumah warga dia pun malah memungut tarif Rp 60.000 per KK dengan alasan petugas hanya pasang tiang saja sementara kabel biaya masing-masing warga, padahal PLN sudah membebaskan biaya ke warga. Padahal di Pekon tetangga tidak begitu. Nah untuk sawah warga jelas sudah banyak yang kering. Eh, malah mesinnya digunakan sendiri dirumahnya,” ketus pemuda itu. (Gie/Arnadi)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*