Forum Komunikasi RW Desak Walikota Depok Segera Pecat Lurah Tugu

Walikota Depok Idris Abdul Somad hadiri perayaan Maulid di Depok (dok. KM)
Walikota Depok Idris Abdul Somad hadiri perayaan Maulid di Depok (dok. KM)

DEPOK (KM) – Kelurahan Tugu yang berpenduduk sekitar 70 ribu jiwa yang terbagi dalam 19 RW merupakan kelurahan terluas dan terpadat di lingkup Kecamatan Cimanggis. Terdiri dari berbagai karakter masyarakat, budaya, dan pemikiran. Hal itu disampaikan oleh lurah Tugu, Drajat Karyoto, beberapa waktu lalu pada saat pelantikannya.

“Oleh karenanya saya berharap semua elemen masyarakat dapat membantu saya dalam menjalankan tugas saya sebagai lurah agar menjadi pimpinan yang amanah,” kata Drajat. Selain itu, selaku lurah baru, dia berencana melanjutkan program yang sudah ada dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Pelayanan yang baik terhadap masyarakat adalah tugas nomor satu yang harus ditingkatkan agar warga memperoleh kepuasan dan kemudahan dalam mengurus sesuatu,” janji Drajat saat dilantik 16/1 silam. Namun beberapa sumber dari para pengurus RT-RW se-kelurahan Tugu, mengatakan bahwa pejabat Lurah yang ada saat ini banyak membuat warga kecewa.

Terkait pelayanan di kantor kelurahan, pada jam 09.00 WIB belum juga ada orang sehingga saat warga mau mengurus surat untuk pembuatan KTP dan pengantar lainnya, mereka belum bisa dilayani. “Lurah jarang ada di tempat, hanya 3 kali ha dir dalam sepekan. Sering kali jika hadir mengajak anak-anaknya di ruang kerjanya. Petugas dari Disdukcapil untuk pembuatan KTP sendiri jam 10 pagi belum juga ada di tempat,” ujar salah satu narasumber.

Advertisement

Saat awak media mendatangi ruang kerjanya untuk mengkonfirmasi terkait keengganannya untuk hadir setiap RT-RW mengundangnya, dirinya menegaskan, “Saya Lurah juga PNS yang diangkat oleh Walikota. Beda dengan Kades yang dipilih oleh warga bukan walikota,” tegas Drajat karyoto.

Menanggapi ucapan itu, para RW mengungkapkan kegeraman mereka. “Itu yang di sebut Lurah arogan, sombong, bermulut preman,” ungkap salah satu RW saat acara pembentukan Forum Komunikasi RW se Kelurahan Tugu. Forum ini pula sebagai mosi tidak percaya atas kepemimpinan Drajat Karyoto.

Bahkan, berdasarkan informasi para ketua RW, pada Januari akhir sejumlah 600 karung beras raskin lenyap. Hal ini dibenarkan oleh beberapa staf kelurahan.

Saat wartawan KM mengkonfirmasi Kasi Kemas (Kepala seksi Kesejahteraan Masyarakat) Kelurahan Tugu, Diah, ia membantah bahwa bukan 600 tapi 300 karung, hal itu dikarenakan ada kesalahan teknis dalam proses distribusi yang biasa diambil oleh masing-masing RT. “Saat itu saya tugaskan staf saya yang menurut saya dapat dipercaya karena waktu itu saya sedang sakit. Tapi pada pelaksanaannya staf saya dibantu oleb sekwan kelurahan Tugu plus bagian jaga gudang,” lanjutnya.

“Nah disitulah terjadinya selisih 300 karung. Akhirnya saya ambil keputusan untk kejadian ini dipikul berempat orang, yaitu Kasi Kemas, staf saya, penjaga gudang, dan sekwan kelurahan, atas persetujuan Lurah,” kilahnya. (Gie)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*