Kemenlu Bela Hukuman Mati Bagi Gembong Narkoba di Hadapan PBB

Seorang pria berjalan di tengah hamparan kebun poppy, yaitu tumbuhan sumber opium, yang menjadi bahan pembuatan narkoba heroin. Afghanistan merupakan negara sumber peredaran opium terbesar di dunia. (dok. Reuters)
Seorang pria berjalan di tengah hamparan kebun poppy, yaitu tumbuhan sumber opium, yang menjadi bahan pembuatan narkoba heroin. Afghanistan merupakan negara sumber peredaran opium terbesar di dunia. (dok. Reuters)

JAKARTA (KM) – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bersikukuh membela penggunaan hukuman eksekusi mati bagi pengedar narkoba setelah perwakilan Indonesia dihujani kritikan oleh peserta konferensi narkotika PBB. Para peserta konferensi internasional tersebut menilai hukuman mati bagi pengedar narkoba di Indonesia tidak berhasil melawan maraknya konsumsi barang haram tersebut yang terus mengalami kenaikan.

Sebelumnya, beberapa negara juga mengkritisi hukuman mati yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia terhadap 14 pengedar besar narkoba pada tahun 2015 lalu, yang kebanyakannya merupakan warga negara asing. Eksekusi mati tersebut berjalan terus walaupun pemerintah Indonesia menuai kecaman dari beberapa pemerintah dan aktivis asing.

Kemenlu membela penggunaan praktek eksekusi mati tersebut, dengan mengatakan bahwa semua negara menghadapi kesulitan dalam menangani maraknya konsumsi narkoba. “Indonesia dan negara lainnya menghadapi berbagai tantangan dalam menangani masalah narkoba, dan hukuman mati adalah salah satu pilihan, berdasarkan kedaulatan hukum yang diterapkan di setiap negara,” jelas Kemenlu dalam sebuah pernyataan, seperti yang dilansir oleh kantor berita Reuters

Advertisement
.

Perwakilan Indonesia pada konferensi narkoba PBB menuai kritikan ketika ia membela penggunaan praktek hukuman mati bagi pengedar narkoba dan menjelaskan bahwa setiap negara berhak memutuskan hukuman seperti apa yang dinilai pantas bagi pengedar nakoba.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa Indonesia menghadapi “darurat narkoba”, dengan semakin maraknya konsumsi narkoba oleh warga Indonesia dan mengatakan bahwa peredaran narkoba merupakan ancaman yang serius sebagaimana seriusnya ancaman terorisme.

Jaksa Agung Prasetyo pada 7 April lalu mengumumkan bahwa tahun ini akan dilaksanakan kembali eksekusi mati terhadap beberapa terpidana mati kasus narkoba, diantaranya beberapa warga negara asing.

“Kita tidak akan berhenti, karena pernyataan perang terhadap narkoba akan kita tingkatkan,” ujar Prasetyo. (HJA/Reuters)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*