Tiongkok, Siapa Takut?

Kapal Militer China (stock)
Kapal Militer China (stock)

Keluarga Besar Generasi Muda Khonghucu Indonesia mengutuk keras Pemerintah Tiongkok atas tragedi KM Kway Fey 10078, di perairan Natuna. Bahwa klaim mereka atas wilayah perairan Natuna sebagai wilayah territorial mereka hanyalah klaim sepihak dan terkesan amat dipaksakan.

Pemerintah Tiongkok mengatakan bahwa wilayah tersebut merupakan traditional fishing zone mereka, padahal seperti apa yang dikemukakan oleh Menteri Kelauatan dan Perikanan Ibu Susi Pudjiastuti sesuai dengan United Convention of the Law of the Sea (UNCLOS) atau Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut, tidak satupun negara yang mengakui istilah “traditional fishing zone”. Bahwa UNCLOS hanya mengakui “traditional fishing right”, yang itupun harus dilakukan melalui perjanjian antar negara.

Kami mendukung segala bentuk upaya Pemerintah Republik Indonesia untuk menyikapi ini dengan tegas, segala bentuk pelemahan atas kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak boleh dibiarkan begitu saja, atau disikapi dengan lemah. Jika demikian Negeri ini akan selalu menjadi bulan-bulanan Negara lain, tidak terkecuali Tiongkok.

Tidak ada urusan bagi kami yang notabene mayoritas etnis Tionghoa, bahwa kami ada di pihak Merah Putih atas alasan apapun terkait gangguan atas kedaulatan NKRI. Hal ini juga sekaligus menjawab keraguan awam akan kecintaan kami terhadap Ibu Pertiwi, bahwa keraguan itu seharusnya tak lagi ada dalam benak anak bangsa ini. Seorang tokoh Khonghucu kenamaan, Xunzi mengatakan bahwa Negara adalah kodrat manusia, manusia dilahirkan di suatu wilayah negara karena Tuhan menugaskannya membangun negara tersebut. Bahwa kami dilahirkan di Indonesia, sudah menjadi kewaiban kami untuk menjaga dan membangun Negeri ini dengan segala daya yang kami miliki. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Filosofi akan kecintaan tanah air itu pun diajarkan dengan jelas dan seksama dalam ajaran Khonghucu.

Advertisement

Jika menilai dari sisi sejarah, keraguan itupun harusnya sudah selesai ketika ada Perjanjian Tiongkok-Indonesia tentang “Kewarganegaraan Ganda” yang ditandatangani pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Dimana perjanjian ini dengan jelas menyatakan bahwa orang-orang dengan kewarganeraan ganda harus memilih satu Negara dari kedua negara terkait (Indonesia-Tiongkok), sehingga tidak ada lagi klaim Tiongkok atas kaum Tionghoa di Indonesia ataupun sebaliknya. Adalah jelas pilihan dari leluhur kami ialah memilih NKRI, hal ini dibuktikan dengan keberadaan kami hingga saat ini. Bahwa para leluhur kami juga ialah bagian dari sejarah panjang NKRI, bahkan sebelum terbentuknya negeri ini. Siapapun yang mengganggu kedaulatan Negeri, kami jelas ada dipihak Ibu Pertiwi.

Maka dari itu pula, kami mendorong Pemerintah dengan segala kehormatannya untuk menyelesaikan masalah ini dengan tegas dan seksama, sebagai bukti bahwa Negeri ini ialah Negeri Besar yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Negeri yang berdiri diatas kaki sendiri, negeri yang berdaulat atas wilayahnya sendiri. Klaim atas wilayah NKRI harus menjadi perhatian besar Pemerintah Republik ini, jangan biarkan ada yang bertindak sesuka hati. Tak ada yang perlu ditakuti selama kita berada pada arah dan posisi yang benar. Kami siap menjadi garda terdepan atas kesewenang-wenangan terhadap kedaulatan NKRI.

Menjadi Tionghoa adalah sebuah pemberian dari Sang Pencipta, tak ada satupun pihak yang dapat menawar untuk dilahirkan menjadi apa dan siapa. Menjadi Khonghucu adalah sebuah pilihan atas jalan hidup kami. Menjadi Indonesia adalah sebuah kebanggan bagi kami.

[sexy_author_bio]

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*